Bicara

Bicara

Malam larut. Saya masih tetap terjaga dengan mata yg tampaknya belum ingin dipejamkan. Segelas kopi di pagi hari rupanya mampu membuat saya bangun sampai sekarang. Saya memandangi langit malam ini. Sepi tanpa bintang. Entah karena hujan yg hampir seharian mengguyur atau karena memang bintang-bintang enggan muncul malam ini. Melamun panjang. Tenang. Malam hanya ditemani suara jangkrik dan tetesan air dari pipa paralon. Angin berhembus, menggelitik rambut-rambut saya yg mulai memanjang tak beraturan. Saya hirup dalam-dalam udara malam yg tak baik untuk tubuh. Sejuk sekali. Rasanya menenangkan. Saya sedang berpikir. Untuk entah yg keberapa kalinya. Mengenai alasan.

Orang-orang mempertanyakan alasan. Mengapa? Sungguh saya ingin menjawab. Saya ingin mengetahui. Tapi saya pun hilang arah sejak awal. Dan sekarang sudah terlalu terlambat bila masih mempertanyakan mengapa. Bahkan ketika alasan itu masih hangat jadi pembicaraan, saya pun tak bisa menjawab. Apa yg harus saya jadikan jawaban? Apa ada yg cukup baik untuk saya jadikan sebuah alasan? Apa sebuah kalimat cukup untuk mempersingkat seluruh cerita dari awal sampai akhir?

Orang-orang berhak mempertanyakan alasan. Sama seperti saya yg berhak mempertahankan bungkam. Memenuhi hasrat setiap orang tentang alasan bukanlah kewajiban saya. Bukan pula sebuah keharusan untuk menjelaskan. Mengapa bukan saya saja yg mempertanyakan rasa ingin tahu mereka? Apa karena peduli? Atau hanya pemburu cerita yg tak akan pernah puas akan berita? Atau mungkin memang senang mempergunjingkan orang lain tanpa fakta yg benar? Bahkan saya saja tak mau tahu alasan mereka. Bagi saya, itu tak penting. Sebaik apapun niatnya mempertanyakan alasan. Saya hanya ingin berterima kasih.

Mengapa terima kasih? Saya diberikan kesempatan jadi seorang yg pernah ada dalam pikiran dan hati siapapun yg mempertanyakan. Cukup penting untuk bercokol dalam otak entah sebentar atau lama. Cukup berharga untuk di perhatikan oleh hati-hati yg penasaran. Saya pernah ada dalam lembar hidup siapapun yg mempertanyakan. Walaupun hanya satu huruf atau bahkan berlembar-lembar.

Malam semakin larut. Saya menemukan sebuah bintang, kecil tak terlalu terang. Saya mulai menutup mata. Menikmati semilir angin dari jendela yg terbuka. Mulai berdoa. Pada apa atau siapapun diatas sana yg pasti mendengarkan. Ini saya. Menyambut pagi dengan senyuman. Hari akan semakin baik. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s