Menyanyi

Menyanyi

Saya tidak pernah merasa menyanyi adalah salah satu passion yg harus saya kejar. Saya hanya suka menyanyi tanpa merasa harus dapat menghibur orang atau bahkan menghasilkan uang dari situ. Menyanyi adalah hobi. Sesuatu hal yg saya lakukan ketika saya butuh melampiaskan kekesalan, meluapkan kebahagiaan, menghilangkan kesedihan atau hanya karena ingin mengikuti lagu yg sedang diputar di radio atau iTunes. Saya suka menyanyi. Saya merasa lebih hidup ketika menyanyi. Tak peduli nada sumbang atau tidak tepat dengan lagu. Saya sering dikomentari keluarga, kalau mau menyanyi ya yg tepat nadanya. Hahaha. Saya cuek saja tetap bernyanyi sesuka hati. Tetap berpegang teguh pada pendirian yg tidak tepat *nyengirkuda*

Sampai suatu ketika, saya menemani Mama pergi ke acara reuni SMA-nya di daerah Puncak. Saya dipaksa menyanyi oleh teman-teman SMA Mama. Maksa-nya, lebih parah dari anak kecil yg minta permen. Ampun! Dengan muka cemberut, saya akhirnya menyanyi dengan perjanjian HANYA SATU LAGU! Diiringi dengan organ tunggal (iya, organ tunggal, saya persis seperti penyanyi kawinan), saya menyanyikan lagu jaman dahulu kala milik Vina Panduwinata, Biru. Nyanyi seadanya, suara pun sedang dalam kondisi absurd karena batuk berkepanjangan dan flu yg terus menerus membuat hidung saya meler. Selesai lagu, tepuk tangan riuh rendah membuat saya memerah. Malu! Ternyata daritadi saya diperhatikan berarti, hihihi. Saya jalan kembali ke kursi tempat saya tadinya duduk, eh belum sampai 3 langkah sudah diseret kembali ke panggung mini oleh teman Mama yg minta ditemani duet. Tahu lagunya apa? Kopi Dangdut! Ya ampun, saya belum pernah nyanyi lagu itu! Saya pias dan mati kutu. Walaupun lagunya sangat familiar dan mudah dinyanyikan, tapi saya tetap saja bingung dan takut-takut menyanyikannya. Untungnya si pemain organ baik dan profesional, dia menuntun saya sepanjang lagu dengan kode-kode yg saya rasa hanya saya dan dia yg mengerti :p

Dari perjanjian awal yg hanya satu lagu, saya mengakhiri acara dengan rekor 28 lagu. Mulai dari dangdut, lagu jadul sampai pop yg lagi nge-trend saat itu. Sebelum saya dan Mama pulang, teman-teman Mama memberikan pujian yg membuat saya seperti udang rebus. Tapi satu orang, pemain organnya, sukses membuat saya pias. Dia bilang, “Suara kamu bagus dari sananya, tapi kamu masih ijo. Kurang latihan. Sayang jadinya. Bagus tp gak keasah jadi cenderung biasa aja. Gak ada ciri khas,”. Nah lho! *mukabengong*

Sejak kejadian itu, saya meyakinkan diri kalau bernyanyi itu harus yg benar. Setidaknya, menyenangkan untuk didengar. Bukan asal buka mulut atau asal keluar suara. Alhamdulillah, sejak itu saya jadi rutin iseng-iseng nyanyi bersama beberapa teman. Bukan dengan organ tunggal, tapi dengan instrumen yg lebih baik. Gitar, drum, piano dan terkadang saksofon. Mengulik lagu yg kadang justru saya gak pernah minat mendengarkan. Dari mulai dangdut sampai lagu metal alias melayu total, saya kulik sampai mabuk karena nada dan lirik yg kadang menggelikan. Soul, jazz, dan aliran musik lain yg banyak improvisasi selalu memakan waktu lebih lama. Sulit, tapi saya selalu merasa tertantang untuk bisa.

Sekarang kalau menyanyi, keluarga sudah tidak pernah komentar yg aneh-aneh lagi. Malah justru kadang sering request lagu untuk saya nyanyikan. Saya? Hanya tersenyum dan bilang, “Bayar!” :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s