Marriage

Marriage

Saya ingat pernah mendiskusikan tentang menikah muda bersama teman-teman waktu dulu SMP. Saya dan apa yg orang biasa sebut dengan Genk memang agak sedikit ‘ajaib’. Ketika SMP kelas 3 yg kami bicarakan adalah bagaimana nantinya bila hari pernikahan kami tiba. Akan bagaimana dan seperti apa. Kami semua berandai bila suatu hari nanti, sebelum menginjak umur 25 tahun, kami akan sudah menikah. Dengan pesta impian masing-masing dan sejuta mimpi yang membuat kami mabuk dalam angan-angan. Dulu, kami masih cunguk. Bau kencur. Baru mau putih abu. Umur pun belum sampai 15 tahun. Dan mimpi kami tentang menikah muda, masih sebuah mimpi yg manis.

Dan sekarang kami disini. Sudah sampai pada titik dimana si putih abu mulai senja di dalam lemari. Siapapun remaja pada umur saya hanya punya 2 mimpi. Pertama, mereka sedang berusaha mengejar cita-cita dan sibuk dengan dunianya sendiri. Kedua, mereka merencanakan masa depan dengan pasangan dan mempunyai anak. Nah, saya pribadi, lebih pada kategori pertama. Apalagi ditambah dengan segala kondisi yg justru membuat saya agak enggan cepat-cepat menikah. Duh, rasanya kata PERNIKAHAN adalah sesuatu yang seram dan terikat. Tapi, salah satu sahabat saya dari sejak TK dengan ajaibnya beberapa hari yg lalu mengungkapkan tanggal pernikahannya di awal bulan depan, yg kebetulan sekali bertepatan dengan tanggal lahir saya (teteuuup). Nah lho! Reaksi pertama? Aduh, ampun. Saya kehilangan kata-kata. Sulit mengungkapkan kekagetan saya. Otak saya isinya tanda tanya semua. Sibuk bertanya, kenapa, bagaimana, ada apa. Pokoknya sibuk!

Saya bukan menanyakan macam-macam. Saya hanya sibuk mempertanyakan kesiapan dari kedua calon mempelai itu. Aduh.. Bukan berarti nikah muda adalah hal yg tidak mungkin, tapi nikah muda tanpa persiapan lahir batin yg matang, ditambah segala macam hal yg mengikuti di belakangnya, saya rasa tidak mudah. Malahan, jauuuuh dari kata mudah. Tapi, segala sesuatunya kembali ke diri masing-masing. Siap atau tidaknya kita, hanya diri kita sendiri yg tahu. Keyakinan untuk melanjutkan hubungan ke arah yg lebih serius memang tidak didapatkan begitu saja. Butuh pemikiran yg matang dan sungguh. Jangan sampai pernikahan berpindah arti dari sesuatu yg bersifat ‘komitmen seumur hidup’ jadi hanya ‘bosen, cerai’. Pernikahan, tetaplah PERNIKAHAN. Sebuah komitmen yang harus dijalani seumur hidup. Baik, buruk, sehat, sakit, kaya, miskin. Till death do us part. Tapi tolong, kalau pernikahan sudah sampai tahap KDRT, be wise. Jangan sampai mati dianiaya pasangan! Hiiiiy!

Anyndita Nadia Lystianti, I do wish anything best for your life. No matter what you decided, believe me, I will be there to support you. As long whatever it is makes you happy. Nadia sayang, gw yakin sekarang lo udah lebih dewasa. Udah lebih bisa bedain mana yg baik dan nggak buat lo. Gw bahagia kalo lo bahagia. Gw harap Ido bisa bikin lo lebih bahagia lagi dari sekarang. Jangan lupa belajar masak sama ngurus rumah, lho. Ketika lo udah jadi istri, itu ibarat lo punya anak. Biar bagaimanapun juga, lo punya satu manusia buat diurusin. Saling jaga ya sama Ido. Jangan sampe lo nyakitin Ido, dan lebih jangan lagi Ido nyakitin lo! Gw bikin compang-camping kalo berani bikin lo sengsara! Kuliah tetep jalan ya, Nad. Cita-cita nyokap lo harus dipenuhin. Inget, Ibu pengen lo jadi sarjana. Gw yakin Ido ngedukung apapun yg baik buat masa depan lo. Inget ya Nad, ada apapun, cerita sama gw. Gw akan selalu ada buat lo. I love you muuuuuuch! Pasti nangis nanti gw pas ijab kabul lo :”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s