Menulis

Menulis

I once decided about my paln for the future. I wanted to be a singer. Or maybe not a singer, but a pshychiatrist. Or else. Maybe being a wedding organizer would be fun. But moments after, I wanted to be somethig else. I want to be a writer.

Saya menulis. Sesekali. Diatas potongan kertas, di tembok, di meja-meja kelas yg usang, di belakang buku catatan, di notes dalam ponsel, di ms. word dalam laptop. Menulis seperti terapi. Memindahkan isi pikiran dan hati ke dalam tumpahan kata-kata. Meski sering terasa kata tak cukup kuat atau tak mampu menjabarkan. Saya bukan penulis. Bukan seorang profesional yg bisa menghasilkan uang dari menulis. Bukan pula seorang yg karyanya begitu bagus sampai ada orang yg mau membaca hingga berulang-ulang. Bukan pula penulis yg karyanya mampu menggerakkan hati orang lain. Tapi saya suka menulis. Seperti sekarang. Karena tak selalu bicara adalah baik. Tak selalu omongan adalah benar. Tapi tidak pula tulisan baik dan benar. Hanya saja, tulisan tertata. Dalam bahasa apik, bukan omongan terbata. Walau tulisan mudah menjadi rancu karena orang membaca sebuah tulisan dengan gaya masing-masing. Sebuah niat baik dalam tulisan bisa menjadi sebaliknya. Tulisan menyimpan makna tersirat. Kadang tak terbaca, tak nampak, tak terlihat. Kadang jelas sejelas buliran pasir di tangan dan tetesan hujan di dahi.

Saya menulis. Tak tentu alur hendak kemana tulisan ini sebenarnya. Tapi saya tetap menulis. Seperti daun kering di musim gugur yg terus terbang mengikuti arah angin. Saya tak tahu dimana saya akan berhenti. Tak tahu kapan saya akan berhenti. Karena menulis seperti heroin yg terus mengisap jiwa saya. Menghabiskan sisa-sisa hati dan pikiran saya. Merenggut segala yg saya punya. Sambil tetap memaksa saya untuk tetap hidup. Kadang menulis terasa berat. Jari-jari saya seperti dibebani beratus-ratus ton besi. Maka saya menulis dalam pikiran. Saya rekam baik-baik dalam kotak memori, taruh di pojokan agar tak tersapu kotak-kotak lain. Ketika jari saya terasa melayang, pelan-pelan saya ambil kotak itu, buka isinya dan tuangkan dalam kata-kata. Seringnya saya menulis karena sakit. Hati yg terluka, pikiran yg penuh beban. Menulis adalah terapi. Untuk jiwa-jiwa yg sekarat. Seperti saya. Sekarat karena ternyata hidup bukan negeri dongeng? Atau memang ini negeri dongeng? Hanya saja, peran Nenek Sihir jahat ada lebih banyak dan saya tak punya kurcaci yg mempermudah pekerjaan hidup. Juga ternyata, menyanyi tak bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah. Dan, oya, hai. Kenalkan, saya bukan Putri Cantik yg butuh diselamatkan Pangeran Berkuda Putih dari Negeri Antah Berantah.

Saya ingin berhenti. Kembali pelan-pelan ke masa yg baru saja saya lewati. MMenghapus kesalahan-kesalahan yg sedikit banyak berperan dala hidup saya. Saya ingin hidup saya semudah menekan tombol pada keyboard. Mengontrol penuh apa yg sudah, sedang dan akan terjadi. Itu mimpi. Mimpi yg seringnya terlalu mengada-ada. Bahkan mimpi pun saya tak boleh terlalu berharap.

Saya sudah hampir berhenti. Karena kenyataan baru saja memanggil-manggil saya. Menulis adalah satu dunia yg terisolasi dari dunia lainnya. Menulis terpisah. Begitupun saya saat menulis. Seperti terpisah. Dari dunia tempat saya sesungguhnya berada. Dari orang-orang yg sebenarnya ada. Saya menggigil kedinginan. Saya sakit dan mati. Atau mati karena tertabrak. Atau dibunuh. Itu adalah dunia lain. Saya dan menulis, adalah dunia abadi. Tak akan mati. Saya membara dalam dunia ini. Seperti api yg tak akan pernah padam, warna yg tak akan pernah pudar, bunga yg tak akan pernah layu, pohon yg tak akan pernah gugur.

Mungkin seharusnya saya berhenti. Karena semua terdengar tak lagi masuk akal. Bukan menulis. Bukan hidup. Hanya rasa. Seharusnya. Mestinya, sejak dulu. Jadi, saya berhenti. Disini.

 

Menulislah untuk dirimu sendiri. Ketika menulis untuk diri sendiri terasa tidak cukup, menulislah untuk orang terdekat. Ketika menulis untuk orang terdekat masih terasa tidak cukup, menulislah untuk orang asing. Ketika menulis untuk orang asing tidak cukup, menulislah untuk dunia. ketika masih saja hasratmu tak tercukupi, berhentilah menulis. Mungkin pikiranmu terlalu kaya untuk dijabarkan hanya dengan 26 huruf.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s