Rindu

Rindu

Ribuan kata acak-acakan di dalam otak saya. Meminta untuk dirangkai dalam barisan kalimat rapi. Tapi saya acuh. Pikiran saya melayang tentang rindu yg menggebu.

Saya rindu sendiri. Melangkah tak pasti menikmati rimbunnya pepohonan ratusan tahun di tengah gerimis kecil-kecil. Saya rindu kupu-kupu. Dulu mereka sambangi perut saya saban pekan sampai saya kegelian dan merona. Saya rindu mimpi. Satu yg seperti gulali di pasar malam yg manis gula biang dan membuat saya sakit gigi sesudahnya. Sekarang seringnya hanya semut-semut merah dan ruang hampa. Saya rindu terbata. Kehilangan kata dan sikap karena terlalu malu atau terlalu kaget atau terlalu bahagia. Kala saya hanya bisa membisu dan salah tingkah. Saya rindu kamu. Siapapun kamu yg membuat saya mampu senyum-senyum sendiri. Kamu yg entah darimana asalnya bisa membuat saya kehilangan satu detakan dalam setiap pandangan. Bagaimana kamu berbicara pada saya penuh kehati-hatian dan perasaan. Kamu, masa depan saya, yg bahkan saya belum kenal, belum tahu, belum dengar apalagi lihat dan sentuh. Kamu yg hadir dalam mimpi-mimpi saya hanya bersosok tubuh tinggi dankepala terhalangi sinar. Kamu yg merasuki alam bawah sadar saya, mempengaruhi harapan saya, menghidupi nafas saya, merampas detak jantung saya. Kamu. Sinaran bintang yg belum saya temukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s