My-So-Called-Future

My-So-Called-Future

Lagi-lagi saya dihadapkan pada pilihan yg membuat saya harus berpikir lebih dari 2 kali. Lagi-lagi tentang permasalahan yg sama. Pendidikan. Saya rasanya ingin sudahi saja babibu mengenai pendidikan ini. Kepala saya pening. Siapa sih orang yg nggak mau meraih pendidikan setinggi mungkin? Lazimnya di Indonesia, negara saya tercinta ini, pendidikan tidak sebatas SMA. Dan selayaknya remaja lain seusia saya, setelah SMA mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yg lebih tinggi, universitas.

Saya pernah membahas ini sebelumnya. Soal kuliah. Dan cita-cita saya. Obrolan bersama Kakak dan Mama saya di pagi hari mengingatkan kembali tentang topik yg cukup krusial bersangkutan dengan my-so-called-future. Saya juga pernah mention kalau saya ingin menjadi seperti kakak saya, seorang Public Relation. Dan untuk itu, saya harus mengambil jurusan Komunikasi di universitas nanti. Tapi saat mengobrol barusan, Kakak bilang tentang prospek pekerjaan Sarjana Komunikasi di realita saat ini. Tidak banyak. Sementara semua orang seperti berlomba-lomba masuk Fakultas Komunikasi di setiap universitas. Yak. Mengikuti panggilan hati, saya akan tetap keukeuh masuk Komunikasi. Mengikuti realita, saya akan mengikuti prospek pekerjaan yg lebih besar dalam 3 tahun ke depan.

Well, whatever I’ll take, realistis adalah salah satu motto yg tampaknya harus saya pegang teguh sampai entah kapan. Tapi saya berjuang, untuk satu hal. Membahagiakan dan membanggakan orangtua dan kakak saya. Ciao!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s