Reborn

Reborn

Ini untuk yg terbuang, disisihkan, dikucilkan, dipandang sebelah mata, terasing, terisolasi dan minoritas.

Mungkin hanya ada sekian manusia di pergaulan yg bernasib sama. Pecandu, pengidap penyakit menular, ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), mantan napi, pemabuk, single father, single mother, korban KDRT, korban kekerasan seksual, putus sekolah. Satu diantara sekian banyak orang. Anomali. Seperti tidak normal dan berbeda. Pasti ada perasaan mengganjal karena perlakuan orang-orang yg berbeda atau karena mindset diri sendiri. How it feels and how it really affecting people’s life. Sepertinya, hidup baru saja dimulai.

Akan selalu ada pro-kontra untuk setiap problema yg ada. Dan permasalahan yg saya sebutkan diatas menimbulkan banyak kontra dalam masyarakat dengan kultur Timur yg kental, Indonesia misalnya. Tidak mudah untuk menerima perbedaan yg cenderung mengarah pada penyimpangan. Sikap yg seringnya menghakimi dan mengadili adalah salah satu batu sandungan untuk mayoritas orang dengan permasalahan diatas. Padahal, orang-orang dengan problem seperti itu seharusnya ditempatkan sebagai prioritas nomor 1 dalam daftar orang yg membutuhkan dukungan moriil. Fakta bahwa tak banyak orang yg memberikan dukungan atau sekedar melihat dari kacamata mereka, sangat miris.

Banyaknya adalah penghinaan, kata-kata, sikap dan bahasa tubuh yg menunjukkan rasa tidak suka terhadap masalah atau ‘status’ yg mereka sandang. Lazimnya, pribadi mereka dipertanyakan. Status mereka dijadikan tolak ukur moral. Identitas mereka adalah masalah yg mereka miliki. Seribu kebaikan mereka menguap seperti setitik air di hamparan gurun pasir. Dan yg terlintas di ingatan setiap orang yg mengenal mereka adalah perbuatan yg diri sendiri atau orang lain akibatkan pada mereka. Cerita mereka nyata, realita. Apa yg benar-benar terjadi pada sebagian kecil dari sebagian besar penduduk Indonesia.

Untuk mereka, hidup tak lagi sama. Setiap detiknya menjadi lebih berharga. Setiap saatnya menjadi lebih mengharukan. Dengan segala emosi yg berkecamuk, akan selalu ada titik dimana hidup mereka terasa lebih mempunyai arti dan tujuan. Mereka hidup untuk diri mereka sendiri. Mereka hidup untuk orang-orang yg mereka cintai. Mereka hidup dalam dunia dimana sakit tak lagi menyakiti dan airmata tak lagi karena lara. Mereka bisa bernapas lega setiap matahari terbit dan terbenam karena satu hari penuh syukur mampu mereka sambut dan selesaikan. Apa yg orang-orang ini lalui mungkin tak pernah terbayang atau bahkan terlintas di pikiran kalian. Hidup yg mereka jalani mungkin hanya seperti sinetron dengan terlalu banyak episode. Tapi mereka adalah pemain yg benar-benar menghidupi kehidupan sinetron itu. Mereka lah yg jatuh, bangun, menangis, tertawa, bersyukur, memaki, dihina, dipuji, dijauhi dan segala bentuk respon lainnya. Mereka lah bidak-bidak yg setiap langkahnya dalam permainan disebut kehidupan ini diikuti dengan doa dan doa. Agar langkah selanjutnya lebih mudah, lebih lancar dan lebih penuh berkah.

Meski di lain pihak, mereka jugalah yg berkecil hati. Mereka yg rendah diri dan depresi. Sayangnya, mereka juga yg berakhir dengan kematian naas atau masa depan pekat. Mereka yg menghabiskan sisa hidup dalam penyesalan dan sakit hati tak terperi. Mereka yg berdoa tapi merasa tak pernah dijawab. Mereka yg mencari arti tapi tak pernah menemukan. Mereka jatuh, jatuh, jatuh dan terus jatuh hingga terlalu luka untuk dapat kembali berdiri tegak dan mengangkat kepala. Mereka adalah orang-orang yg sepi di hingar bingarnya bahagia.

Saya yakin dan tahu kalau mereka adalah orang-orang kuat. Jauh lebih kuat dari masyarakat mayoritas. Mereka kuat dan mampu berdiri diatas kaki mereka sendiri, berjalan dengan tegak dan menantang semesta untuk berlari mengejar mereka. Mental mereka adalah baja-baja cair yg dikeraskan untuk dijadikan perisai yg orang lain tidak miliki. Hati mereka seperti bantalan jarum yg penuh tambal sulam tapi tetap kuat menahan dalamnya tusukan demi tusukan. Luar biasa adalah mereka yg mampu mengalahkan doktrin menjerumuskan masyarakat buta informasi dan buta hati. Mengikuti angin yg berhembus menuju masa depan yg mereka songsong penuh usaha dan harapan. Hidup mereka memang tak lagi sama. Karena mereka baru saja terlahir kembali untuk kehidupan lain. Kehidupan yg (semoga) lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s