Jarimu, Harimaumu

Jarimu, Harimaumu

Menurut saya, sekarang bukan lagi jamannya peribahasa “Mulutmu, Harimaumu”. Sekarang lebih modern. Dengan segala kecanggihan yg ada, lebih tepat kalau peribahasa tersebut diganti menjadi “Jarimu, Harimaumu”. Bagaimana tidak? Orang-orang lebih sering berkomunikasi menggunakan segala teknologi yg ada di depan mata. Kemanapun mereka pergi, pasti minimal ada satu tentengan teknologi teranyar. Terhubung dengan koneksi internet serba canggih dan cepat, membuat data dan berita apapun lebih cepat keluar dan masuk. Berita kematian misalnya. Dulu, orang akan menyebarluaskan melalui telpon dan dari mulut ke mulut. Bisa memakan waktu berjam-jam bahkan kadang berhari-hari. Sekarang? Berita kematian terhantar kurang dari 1 menit. Sudah termasuk mengetik dan mengirim. Lewat mana? Satu tentengan canggih yg paling ‘standar’, BlackBerry. Bukan hanya lewat pesan yg sifatnya pribadi seperti BlackBerry Messenger/BBM, tapi juga lewat jejaring sosial yg semakin banyak ragamnya. Facebook, twitter, foursquare, tumblr, blogspot dan masih banyak lagi.

Tak hanya berita kematian, tapi juga gossip dan kawan-kawannya. Membicarakan, menyindir, dan menghina orang di BBM atau bahkan jejaring sosial adalah hal yg juga ‘standar’ sekarang. Mari jujur. Awalnya mungkin merasa seperti seorang yg jahat bersikap se-vulgar itu di depan umum. Merasa seperti tidak punya nurani. Merasa tak layak membicarakan apapun kejelekan orang lain di tempat yg bersifat umum. Tapi karena orang lain sudah terlebih dahulu memulai, pasti ada rasa tergoda. Ingin juga mencoba. Hingga akhirnya ‘mencoba’ terlalu dalam. Kecanduan. Karena apapun tentang membicarakan orang lain, bersifat adiktif. Itulah mengapa infotainment laku keras. Kalau sudah begini, mau bicara apapun dan bersikap bagaimanapun, memang sudah hilang nurani. Tak ada lagi kedewasaan dan sensitivitas. Hanya tersisa kebutuhan berghibah tercukupi. Postingan-postingan tentang orang lain. Menyindir. Menusuk. Membunuh. Bukan lagi mulut yg menyakiti hati. Tapi secara tidak langsung, jari-jari yg dipakai mengetik adalah jari-jari yg sama yg dipakai untuk membunuh setiap inci hati orang lain dan hati milik sendiri. Pembunuh berkedok manis. Berbalut kecanggihan teknologi, pembunuh model seperti ini yg lolos dari sanksi hukum dan moral. Menyenangkan, bukan?

Betapa dunia sudah jungkir balik. Pembunuh paling keji dibiarkan lolos dari jerat hukuman moral, sementara justru yg tidak bersalah terjebloskan ke penjara. Sulit memang kalau segala lapis masyarakat sudah tak peduli lai pada moral. Semua kini amoral. Semua kini pembunuh. Dunia ini isinya pembunuh. Secara langsung ataupun tidak, saya juga pernah jadi pembunuh. Ketika yg saya bicarakan hanyalah kebencian dan dendam. Kejelekan adalah topik terhangat status-status saya. Hingga akhirnya saya berhenti. Tobat kalau dalam agama. Saya pikir dengan membicarakan atau kata lainnya, menjelekkan, saya tidak lebih baik dari mereka. Saya malah jauh lebih buruk lagi. Karena yg bisa saya lakukan hanyalah sibuk menjelekkan sementara diri saya sendiri pun masih jauh dari sempurna. Bahkan jauh dari baik. Saya bisa saja mengumbar bahwa saya jau lebih baik dari mereka yg saya jelek-jelekkan. Tapi kenyataan yg ada, kalau saya tetap menjelek-jelekkan, maka saya beratus kali lebih buruk dari mereka.

Jadi, lebih baik diam kan? Pembunuh sudah harus dikurangi angka eksistensinya di dunia. Mulailah dari dunia paling kecil. Dunia sekitar kamu hidup. Atau lebih kecil lagi, dunia kamu. Diri kamu sendiri. Apapun baik buruknya orang lain, bukan untuk kamu umbar. Tapi dijadikan pelajaran untuk kamu sendiri. Siapa tahu pelajaran itu kelak akan berguna untuk kamu di masa depan. Tutup mulut dari sekarang. Kunci jari-jemari rapat-rapat. Agar kamu bisa terlihat berharga. Jauh lebih berharga dari orang yg menurut kamu buruk.

 

Written on January 16th 2011, taken from my old post in my old blog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s