Mama, Nafas Hidup-ku.

Mama, Nafas Hidup-ku.

Mama, aku tak pernah mengucapkan secara langsung betapa cintanya aku pada Mama. Tak pernah sanggup bibirku berkata sayang tanpa meneteskan airmata bangga dan bahagia. Sedikit sekali ucapan manis keluar dari mulut ini akan kasihmu yang mengalir deras tanpa ujung. Ungkapan demi ungkapan penuh haru akan perjuangan dan setiamu padaku, anakmu yang belum mampu membanggakanmu, selalu tertahan di katup bibirku. Aku malu. Pada airmata yang pasti menetes seiring kalimat-kalimat syukur karena memilikimu, keluar.

Mama, engkau bukanlah satu-satunya Ibu di Bumi Pertiwi. Engkau bersanding diantara jutaan Ibu-ibu lain yang juga luar biasa hebat dan tangguh. Tapi untukku, anakmu, engkau adalah nomor satu. Kebahagiaanmu adalah nafas hidupku. Sesulit apapun aku harus berjuang, itu adalah untukmu agar kelak ketika saatnya tiba, kau bisa tersenyum di singgasana surga milik-Nya.

Mama, aku bukanlah anak paling baik yang engkau miliki. Aku bahkan cacat dan membiru disana-sini. Tapi engkau menerima keadaanku dan mendukung setiap langkahku. Melindungiku saat punggungku ditusuki belati, memeluk lembut tubuhku yang terguncang pilu. Menemaniku disaat anak tercintaku lahir, mengusap peluh yang terus menetes tanpa henti. Mencintai anak yang melahirkan cucu yang juga kau cintai. Apa adanya aku adalah hal yang tak pernah kau jadikan persoalan. Hanya menerima dan bersabar, bagaimanapun keadaannya.

Mama, seringkali aku terisak menangisimu. Mengingat betapa peliknya masalah hidupmu. Mengingat beratnya beban hatimu. Inginku membantumu, bagaimanapun caranya. Tapi aku tak pernah merasa mampu menjadi sehebat dirimu. Selalu kurang disini, selalu kurang disana. Aku tak mampu menandingimu, Mama.

Mama, engkau tak pernah memintaku untuk menjadi begini atau begitu. Cukup menjadi diriku yang terbaik. Itu pun sudah cukup untukmu. Padahal aku pun masih gagu mau jadi apa. Aku pun masih buntu tentang aku. Tapi engkau tetap ada, percaya dan yakin kalau aku pasti bisa. Menjadi diriku yang terbaik dan memberimu hadiah paling indah dariku, kesuksesanku.

Ah, Mama. Lihat.. Kata-kataku sudah berputar-putar. Kosakataku terlalu sedikit untuk rasa cinta yang berlebih terhadapmu ini. Rasanya aku harus mempelajari bahasa di seluruh dunia agar tersampaikan lebih dalam lagi perasaanku.

Mama, kalau Mama baca ini.. Ingatlah bahwa dalam setiap doaku selalu terselip kesehatan, kebahagiaan, kesejahteraan dan cinta kasih untuk Mama. Ingatlah bahwa dalam setiap langkahku, pesan-pesanmu selalu terngiang dalam lubuk-ku, menggaung penuh bijaksana. Ingatlah bahwa dalam setiap hari-hariku, bayangan Mama yang setiap hari semakin kuat dan luar biasa selalu menemaniku.

Mama, doakan aku mampu menjadi sepertimu. Mama adalah pahlawan, guru, sahabat, pendengar, teman berbagi, kawan berargumen yang paling kusayangi. Mama hanya satu dan tak akan bisa tergantikan. Doakan aku bisa menjadi Ibu sepertimu bahkan lebih baik darimu. Aku doakan surga untukmu, Mama. Surga paling indah yang Tuhan siapkan untuk Mama paling hebat. Aku sayang Mama. Selalu. Selamanya.

http://about.me/aysadihardjo

Advertisements

One thought on “Mama, Nafas Hidup-ku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s