So Long, DDAG…

So Long, DDAG…

Bagaimana kalau pada suatu ketika, adanya kamu tak lagi menyembuhkan luka? Bagaimana kalau pada suatu ketika, kesendirian adalah yang dibutuhkan untuk hati yang tak pernah beristirahat? Bagaimana jadinya kalau aku yang mundur dan menjauh? Bukan mengambil langkah seribu, hanya mundur sejenak meski kamu maki karena marah dan kecewa.. Meski kamu tak rela, meski kamu berharap semuanya akan lebih dari sekedar ini. Bahwa kamu berpikir yang kamu perjuangkan, tak seharusnya kandas bahkan ketika perjalanan belum setengah. Bahwa kamu pikir aku spesial dan nyatanya, tak lebih dari perempuan biasa yang cacat sana-sini.

Kita pernah melayangkan angan tentang sekian tahun ke depan, bersama. Tanpa pernah berpikir bahwa diantara waktu, mungkin hal-hal berubah. Mungkin aku atau kamu, berubah. Mungkin perasaan kita, berubah. Tak pernah berpikir, bahwa pada akhirnya perpisahan pasti terjadi meski entah kapan dan bagaimana. Tak pernah sempat bersama membayangkan hal-hal terburuk yang pada dasarnya, mutlak akan terjadi.

Aku dan kamu terseret dalam sebuah jalanan virtual. Memaksa realita mengikuti dan meninggalkan fakta bahwa jarak akan menjadi sebuah hambatan. Kenyataan bahwa kamu dan aku tak lagi sebuah kita adalah kesalahan dari sisi aku yang ‘melupakan’ kebutuhan dasar aku, seorang pendamping 24/7. Meski kamu sudah sangat cukup hingga aku tak lagi sanggup meminta lebih dari ini. Tapi kebutuhanku lebih tinggi dari kemampuanmu. Bukan berarti kamu tidak baik. Ini hanya aku.. Dan keadaan aku.

Ya. Yang paling benar dipersalahkan dari keadaan kita yang berpisah adalah aku. Masalahnya ada padaku. Yang butuh waktu benar-benar sendiri, karena pikiran dan hatiku tak lagi bisa menampung hal lain. Karena aku sendiri adalah sebuah kekacauan yang tak berujung. Karena aku sendiri sudah berantakan. Karena aku memang tak pernah benar-benar sebaik yang kamu pikir. Karena aku yang keadaannya memang butuh yang lebih dari kamu. Karena aku tak bisa memaksakan kita untuk bertahan. Karena aku sayang kamu, meskipun tak lagi seperti dulu. Maaf karena tak pernah benar-benar memperlakukanmu dengan baik. Karena malah membawamu ke dalam kekacauan di dalam aku. Maaf untuk menjadi seorang yang ternyata biasa saja. Maaf karena pengorbanan dan perasaan kamu ternyata sia-sia…

Setahun terakhir adalah kamu dalam hidupku. Setahun terakhir adalah kita yang meski tak selalu tertawa, kita selalu mencari cara untuk membuat semuanya baik-baik saja. Inginku kelak kita bisa lagi berhubungan dengan baik, walaupun akan memakan waktu yang lama. Inginku kamu baik-baik saja, aku tahu kamu akan baik-baik saja. Apalah artinya aku untukmu kan, Sayang? Rencana-rencana kamu pasti akan tetap berjalan dan kamu akan menjadi manusia sukses. Aku akan selalu bangga padamu, dari kejauhan.

Doaku bersamamu. Sayangku pun begitu, selalu. Cukup dari kejauhan karena aku percaya kamu akan lebih bahagia tanpa aku. Terima kasih, Dimas Darmawan A. G..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s