Standard

Mei-Juni.

MEI

Lewat satu dari sekian jejaring sosial yang aku maintain secara teratur, kamu terselip jatuh diatasku. Tanpa sengaja. Hanya lewat sebuah posting pribadi milik sahabatku. Dan aku biasa saja. Dan pesan pun muncul di notifikasi direct message milikku. Sebuah perkenalan, yang aku tahu, biasa saja. Sesimpel kamu menyebutkan namamu dan aku menyebutkan namaku.

Beberapa hari, kamu mengirimkan pesan lain di direct message. Pin BBM-mu. Katamu, hanya kalau aku ada waktu saja. Tanpa ekspektasi, aku pun menambahkan kamu ke lingkaran kecil kontak BBM milikku. Aku ada waktu, untuk sekedar menambahkanmu di kontakku.

Dan percakapan-percakapan melantur pun. Kita tertawa, dibatasi sinyal-sinyal tak kasat mata yang seringnya menghambat percakapan tak penting kita. Aku tertawa, kamu lucu. Dan bicara denganmu, menyenangkan.

Sabtu malam, sebuah janji yang aku harus datangi di sebuah tempat makan. Aku ajak kamu, tapi kamu menolak. Tapi kamu kemudian gatal ingin keluar rumah dan memilih pergi ke sebuah studio yang tanpa sengaja, aku ternyata tahu. Kamu memintaku mampir dalam perjalanan menuju rumah. Aku datang. Menunggu di mobil, melihat kamu. Lalu seperti katamu, aku muncul dari gelapnya trotoar pinggir jalan yang minim cahaya. Menatapmu, yang lagi-lagi katamu, seperti sudah kenal lama. Hanya beberapa menit. Karena larut, aku pulang. Dan pesan singkat di BBM-ku, darimu. “Cantik”, katamu malam itu. Dan aku tersenyum, memerah.

Kemudian kita bicara, bicara, bicara dan bicara….. Dan bertemu, lagi. Di sebuah sore, dengan janji menonton film. Bertiga dengan teman yang kita sama-sama kenal.

Dan bicara, bicara, bicara…. Dan bertemu, lagi. Di sebuah sore, di depan rumahku. Dan halaman rumahmu, di tengah hujan. Deras. Di tengah asap rokokmu dan piring-piring makanan kita.

Dan bicara, bicara, bicara…..

“… but that means, we have something to think of B-)”, kamu bilang. Aku….. merona.

JUNI

Aku tak punya cukup kata untuk mengungkapkan betapa bahagia dan kecewa yang aku rasakan. Hal-hal yang harusnya tanpa ekspektasi malah berbalik.

Perlahan, yang aku pikir kita miliki, atau setidaknya kita akan pikirkan memudar… Belum pun satu bulan. Aku kehabisan kata-kata dan tak punya cukup huruf saat ini.

Aku diam. Gemetar sekujur tubuh. Menatap isi pesan singkatmu. Aku enggan berlomba dengan kenangan, batinku. Aku tak bisa menangis. Sesak. Aku tahu ini salah. Salah.

Blackberry-ku kedap-kedip. Aku membaca satu-satu isi pesanmu. Tak kubalas, aku hilang kata. Seperti biasa.

Masih JUNI

Aku menulis ini menahan apapun yang hendak meledak di dadaku. Aku masih kehilangan kata-kata. Seperti biasa, ya? Aku terlalu cepat melambung dan seperti biasa pula, cepat jatuh. Kamu luar biasa. Luar biasa memporak porandakan sisa-sisa yang aku punya.

Ini akhir? Ku harap ini hanya tertunda. Meski aku tak tahu apa harapan cukup untuk membuatku diam. Menahan. Lagi.

Advertisements

2 thoughts on “Mei-Juni.

  1. hampir sama ceritany dg yg saya alamin :’) tp setelah 6bln deket malh jd jaauuuhh skrg,,syeediihh 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s