Terlambat.

Terlambat.

30 Agustus. Terselip di dalam tulisan saya tentang seseorang yang menghilang. Tak pernah ada dan selalu bersikap seperti tiada.

10 Oktober. Sebuah pagi yang belum sempat berubah menjadi siang. Mama dengan air mata menggenang di pelupuk mata dan saya yang bertanya-tanya. Berujarnya tentang kecurigaan yg ternyata kenyataan. Ayah sudah tiada.

Tanggal 9 Juli lalu, Ayah saya satu-satunya berpulang ke pangkuan Yang Maha Mempunyai. Tanpa sepengetahuan kami. Bulan bergulir dan kami sekeluarga berkunjung ke Bali, tempat tinggal Ibu dari Ayah. Satu minggu di Bali dan adik Ayah diam seribu bahasa. Belum 24 jam sejak kepulangan kami ke Bogor dan adik Ayah menyampaikan berita duka tsb. melalui pesan singkat.

Saya belum sanggup berujar macam-macam. Kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan. Saya baru berduka untuk kematian Ayah 3 bulan yang lalu.

Advertisements

2 thoughts on “Terlambat.

  1. life…..thousands people live with thousands ways of life…which we never know…ways that we must accept but never surrender…i love u as i always my Dear…may Ayah be with Him in a better place…sending Him a pray everytime u can…love u….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s