Kepada Kamu

Kepada Kamu

Untuk beberapa saat, segalanya berhenti berputar. Sekejap, semua diam dan hening terasa. Ketika gelegar suara pertanda pesan singkat memasuki ponsel, saya sudah membiru bahkan sebelum sempat membaca isinya. Tak sempat dan tak ingin. Tanpa membaca, saya hapus pesannya. Berdiam sejenak dalam bisu. Ekspektasi saya sedang meledek saya mentah-mentah. Menghina dina realita yang menampari dan meludahi wajah saya yang merah menahan perasaan. Ah, gengsi.. Kamu memang setinggi langit. Dan harapan, tolong jangan pernah lagi berani menjejakkan kaki di hati saya. Pergi sana jauh-jauh.

Kepada Kamu,

Bahkan ingin pun tidak, dan terbersit pun tak pernah

Sedikit saja saya biarkan harapan merajai, dan sedetik pula segalanya dihempaskan semena-mena

Saya lelah saling memaki kata, berargumen rasa

Karena selama itu pula saya setengah tak peduli dan setengah takut kehilangan

Dan selama itu saya meredam emosi, berusaha berpaling dari amarah

Tapi kenapa setiap kata menusuk lagi?

Membekaskan luka yang dalam tepat diatas luka lain

Begini akhir yang ada di bayanganmu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s