Mati dalam Hati

Mati dalam Hati

“Kamu kehilangan esensi akan rasa itu sendiri.”
“Kamu tak lagi menggantungkan duniamu pada orang lain.”
“Kamu merasa seperti yang lain, kamu pikir. Padahal perasaan yang kamu miliki saat ini hanya gumpalan daging tak berarti.”
“Kamu lelah, tapi tak mau berhenti berlari.”
“Kamu mencinta dirimu terlalu banyak untuk dapat kamu bagi dengan orang lain.”
“Kamu adalah apa yang kamu keluhkan keegoisan. Atas segala makna, kamulah Dewi-nya.”
“Kamu melihat dengan mata yang tak lagi sama.”
“Pun mendengar, dengan telinga yang berbeda.”
“Kamu nelangsa, tapi enggan berbagi asa.”
“Kamu menyesatkan jiwa yang sudah lama mencari jalan kembali.”
“Kamu.. Melelahkan orang lain yang ingin ikut berjuang bersamamu. Menyesatkan hati orang lain yang dititipkan di kamu. Menyakiti tanpa sadar. Menggantungkan tanpa harapan. Kamu ingin berbagi dengan intensi yang hampir tak ada untuk berbagi. Kamu paradoks hidup paling nyata yang pernah saya temui.”

Dan saya kalem menyesap kopi dari cangkir. Tak merasa. Tak terganggu. Mati dalam hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s