Pacar mana, Pacar!?

Pacar mana, Pacar!?

Tanpa berniat mengeluh atau ngomel dengan keadaan yang sebenarnya seperti saya bikin sendiri.. Ya Tuhan, saya pengin punya pacar!

Baiklah.. So much dengan segala keluh kesah dibalut kata-kata ‘manis’, sekali ini saja saya mau punya hubungan yang agak waras. Tanpa embel-embel jarak jauh atau ‘dipaksa’ keadaan. Entah kapan terakhir kali saya manja-manja minta diperhatiin. Rasanya berantem sama pacar aja saya udah lupa. Belum lagi rasanya punya seseorang yang bisa menyediakan waktu buat nemenin kemana-mana. Atau sekedar nganterin mie ayam bakso setan ataupun sushi pas si pacar lagi sakit (ini emang curcol, nasib jomblo yang lagi sakit miris banget emang). Keberadaannya ituloh yang penting. Seumur saya temenan sama sahabat-sahabat saya, saya nggak pernah bawa laki-laki kalau ngumpul. Padahal temen-temen saya, yang ada sekitar 19 orang itu, hampir semuanya, I repeat, HAMPIR SEMUANYA punya pacar. Malahan 3 dari mereka udah nikah. Oh well, betapa bahagianya kan ya saya kalau malam minggu jalan dan ngumpul sama mereka-mereka? Sangat bahagia. I’m being sarcastic over there, please help yourself.

Dibilang mereka, saya pemilih. Yakali hari gini ga pemilih. Lebih banyak yang brengsek daripada yang nggak, we can’t be too careful, can we? I’m so done with jerk(s). Tidak berencana untuk nyusruk ke ranah yang sama all over again. D’oh. Anyway, teman yang lain bilang saya terlalu banyak kriteria. Okay, this might be true. Calon pacar saya harus begini, begitu, begini, begitu, blabliblublebloooooooo…………. Oh, please. As a woman, I set the parameters. We, women, set the rules and boundaries. Terlalu banyak kriteria, won’t kill us. Ada juga yang bilang kalau saya terlalu cepat berpindah. Okay, teman saya pernah iseng menghitung berapa banyaknya pria dalam hidup saya in the last 6 months. Lebih dari 6 nggak kebanyakan kan!?

Tapi pada akhirnya, seberapa banyak kriteria atau lelaki, saya cuma ingin berpulang pada satu orang yang bisa menjadikan hati saya senyaman dirumah setiap bersamanya. Seseorang yang bisa saya percaya untuk bersandar di bahunya. Seseorang yang rela dengan terlalu banyak drama di hidupnya. Seseorang yang (semoga) berlesung pipit dan berdada bidang serta memiliki tangan yang kekar buat digigit-gigit nista. Oh, baiklah.. Ini mulai nggak puitis. Intinya adalah, apa salahnya sih punya seseorang yang bisa dengan nyaman kita percaya layaknya sahabat, kita ajak berantem kaya saudara, kita sayangin kaya orang yang baru jatuh cinta pertama kali? I wanna have someone like that…….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s