Beda.

Beda.

Image

Pada suatu ketika, akan tiba saatnya dia lelah, tak lagi mampu menolerir satu-satu hati yang hancur. Karena dia lelah dengan mata yang kian memanas di setiap kata yang dibaca, atau kenyataan yang terkuak. Karena satu-satunya bagian kecil yang tersisa kerap dipalu kerikil-kerikil molotov.

Dan debar yang memacu tiada memelan, tubuh yang melemah dan memelas seiring detik, lengan yang terguncang. Dan pertahanan yang tersisa luruh hancur tak bersisa. Hingga tak punya apa-apa lagi selain airmata yang tertahan di sudut mata, yang tak sempat jatuh membawa kelegaan. Dan senyum yang meringis pun mengiris, menyayat apapun yang disisakan kehancuran.

Dan di sana, dua orang berjalan menjauh. Tersenyum tak terbeban, tertawa tak tertahan. Cerah yang mereka lihat adalah kepekatan yang mengalahkan malam untuk seorang di sudut keantaraan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s