Yang Paling Aku Benci Dari Setiap Kepergianmu

Yang Paling Aku Benci Dari Setiap Kepergianmu

Image

Yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku harus mengantarmu ke bandara.

Perjalanan selalu terasa lebih cepat dari biasanya. Dan aku selalu berharap kita akan terlambat dan kamu akan tertinggal penerbangan terakhir malam itu.

Yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku harus mengantarmu ke bandara.

Terlebih saat aku harus berkendara sendiri keluar bandara dan tak lagi tanpa kamu meski wangi tubuhmu masih menempel di bajuku.

Yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku harus mengantarmu ke bandara.

Air mataku selalu tertahan di pelupuk mata, karena menangis sebelum kepergianmu bukanlah wajah yang ingin aku perlihatkan padamu sebelum kamu lepas landas.

Yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku harus mengantarmu ke bandara.

Aku harus bertahan hanya dengan lagu-lagu Kings of Convenience dan bukan obrolan ngalor ngidul tentang hal-hal tak penting. Atau ciuman-ciuman manis kecil yang selalu membuat pipiku bersemu.

Yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku harus mengantarmu ke bandara.

Aku baru tahu kalau jalanan keluar terminal bisa begitu berbeda tanpa kamu yang memegang erat tanganku.

Yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku harus mengantarmu ke bandara.

Kamu sukses membuat rasa cintaku pada bandara berubah menjadi benci-cinta yang terbatas garis kasat mata.

Yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku harus mengantarmu ke bandara.

Karena setelah beberapa belas jam denganmu, aku harus kembali melewati belasan hari tanpamu.

Yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku harus mengantarmu ke bandara.

Dan kata-kata bahwa saat ini kesanalah tempatmu pulang, dan disinilah persinggahanmu. Meski hanya sementara.

Yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku harus mengantarmu ke bandara.

Siapa tahu saja kamu akan menetap disana. Karena sementara sungguh bukanlah kepastian yang manis.

Yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku harus mengantarmu ke bandara.

Aku takut kamu tak kembali. Meski kembali, kembalimu bukan lagi untukku apalagi kepadaku.

Yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku harus mengantarmu ke bandara.

Karena ini bukanlah kepergianmu yang terakhir. Akan ada kepulangan dan kepergianmu yang berikutnya.

Yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku harus mengantarmu ke bandara.

Karena peluk dan kecup sebelum kamu benar-benar menghilang dari pandangku selalu menjadi yang termanis dan terhangat.

Yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku harus mengantarmu ke bandara.

Aku merindukanmu. Bahkan sebelum kamu hilang dari pandangan.

Tapi sebenarnya yang paling aku benci dari setiap kepergianmu adalah saat aku memutuskan menunggumu.

Pahit manis penantiannya, jantung berdebar sebelum bertemu, pipi bersemu merah saat kembali melihatmu.

Aku jatuh cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s