Canceling My Wedding.

Canceling My Wedding.

Sejak kelahiran anak gue, si Pororo, 24 Maret 2011 lalu, udah sekitar 4 ajakan berpacaran serius atau menikah yang gue tolak atau hentikan di tengah jalan. Kaya nggak berterimakasih sih sama Gusti Allah yang sudah sangat baik memberikan gue beberapa pilihan sekian tahun belakangan ini. Tapi, apa daya kalau hati belum tergerak? Gue pernah membahas tentang keinginan menikah tanpa keterpaksaan yang kayanya di posisi gue saat ini adalah sebuah kesempatan yang sangat tricky. Oh, well.

Nah, beberapa minggu setelah putusnya gue dengan lakik terakhir gue, ada seorang pria yang sangat baik muncul ke kehidupan gue. Hasil dikenalin temen, atau lebih tepatnya dijodohin, mulailah ceritanya gue membuka diri supaya sakit hati gue sedikit terobati. Ceritanya. Orang ini baik, banget malah. Dewasa. Dan mapan. Kurang lebih, nggak ada kurangnya. Masalahnya cuma satu. Beda umur yang lumayan jauh. Oke, jauh. Fine, sangat jauh. 20 tahun. Dia umurnya sekarang 40 tahun, dan gue 20 tahun menjadi pertimbangan gue yang lumayan besar. Juga, keharusan untuk meninggalkan kota kelahiran gue tercinta kalau jadi menikah sama dia. Gue harus pindah ke Surabaya. Provinsi aja udah beda, sob. Stress? Sangat. Takut? Jangan ditanya.

Awalnya, bingung banget kenapa ada orang yang pengen menikahi gue dengan tenggat waktu yang lumayan mepet. Cing, doi ngajak married pertengahan tahun depan! Duh. *elap keringet* Tapi mengingat umurnya yang lumayan, gue sadar kalau gue nggak bisa egois dengan mengundur-undur waktu pernikahan gue. Akhirnya, gue iyakan lah ajakan menikahnya. YAY! I’M GETTING MARRIED! Wait. I WAS GETTING MARRIED.

Yup, gue memutuskan untuk menggagalkan pernikahan gue yang sudah sedikit banyak gue rencanakan dan lain-lainnya. Kenapa? Alasannya nggak banyak. Tapi buat gue, dia sangat needy. Sangat haus perhatian. Gue adalah orang yang cuek walaupun sebenarnya perhatian. Tapi, gue nggak kuat ditelponin sehari 10-15 kali. And he did it. And I hated it. So fucking much. Dan dia yang nggak pernah tanya mau gue apa, menjadi alasan gue selanjutnya. Gue adalah seorang bungsu yang pengennya ditanya maunya apa, intinya adalah seorang bungsu dan seorang gemini yang kepingin diperhatiin. Dan sama dia, gue harus jadi orang yang selalu memberi perhatian dan pengertian. Nggak ada take and give. Gue tau waktunya baru sebentar untuk getting to know each other. But, first impression is quite everything, at least for me. Dan I just knew right from that moment, he is not my the one.

Jadi, disini gue mengklarifikasi kalau pernikahan gue akan tertunda. Karena calon suwamiknya gue putusin. It kinda ruined my plan. And ruined the date of ceremony and stuff. But hey, why rush things? I wanna be married once and I want it to be with the one I love. And God whispered to my ear that I got all the time in the world 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s