Kenyataan Asem (Jawa)

Kenyataan Asem (Jawa)

Setelah melalui beberapa hubungan yang salah dan salah banget setelah punya anak, saya merasa seperti berada di ambang menikah dan tidak menikah. Rasanya sulit sekali membuka hati selebar gerbang Istana Bogor karena setiap orang yang saya pacarin seringkali meleset dari tepat. Meleset jauh. Kemudian mengobrol lah saya dengan salah satu sahabat saya yang enggan namanya dijadikan kambing hitam di tulisan saya ini.

 

Aysa : Sebenernya sih gue udah males pacaran. Capek hati, tenaga, pikiran dan salah terus kayaknya pacaran sama siapapun.

 

Tanpa tedeng aling-aling, sahabat saya menjawab sambil menghisap rokok Marlboro putih-nya dalam-dalam.

 

Dia : Mungkin lo belum move on dari si itu.

 

Si itu disini yang dia maksud adalah you-know-who-left-the-most-beautiful-scar yang saya pun enggan menyebutkan namanya.

 

Aysa : Enak aja. Udah dari kapan tahu gue nggak inget-inget dia lagi. Masa kayak gitu disebut belum move on.

Dia : Ya abisnya, ada aja yang salah kan dari setiap cowok yang deketin lo atau pacaran sama lo.

Aysa : Tapi kan bukan berarti gue belum move on dari si itu.

Dia : Terus apa dong? Semua kan bermula dari sejak lo punya anak.

Aysa : Tapi kan bukan berarti gue belum move on.

Dia : Tapi kan bukan berarti juga dengan lo nggak inget-inget dia lagi, lo udah move on.

Aysa : Ya udah move on lah. *kesel*

Dia : Aysa, lo boleh bilang lo udah move on atau lo udah nggak pernah kepikiran dia lagi. Tapi, hubungan lo sama dia tuh punya arti lebih dibanding hubungan lo sama siapapun. Sekebal-kebalnya lo, tetep aja perasaan yang lo punya ke dia, stay disitu. Nggak akan kemana-mana, cuma ditutupin aja dengan kepura-puraan lo selama ini.

Aysa : Nggak, ah.

Dia : Nggak percaya? Coba telaah sendiri kenapa setiap hubungan lo selalu gagal. Karena lo nggak melihat pria-pria lain sebagaimana diri mereka sendiri. Lo tuh kayak nyari sosok si itu di diri setiap cowok yang deketin lo atau pacaran sama lo. Salah? Enggak. Cuma ya akui aja lo belum move on.

Aysa : ……. *hening*

 

Disitu, ada momen jleb banget buat saya. Apa benar kata-kata sahabat saya yang kayak Cenayang ini? Mungkin nggak saya hidup dalam denial terkeras selama beberapa tahun belakangan ini?

 

Dia : I don’t blame you, not even close to judging you. But let’s be honest, babe. That’s the ironic truth of your feelings. That’s the bitter truth of your life. All this years, you have never been able to moved on. It’s fine. Not your fault. Tapi coba deh lo pelan-pelan buka mata, hati, telinga, pikiran. Biar jernih. Masalahnya bukan ada di cowok-cowok yang deket sama lo. Tapi masalahnya ada di lo yang masih terjebak sama masa lalu lo. Let it go. Let things go.

 

Dan saya udah nggak tahu mau berargumen apalagi. Karena diam-diam, saya tahu apa yang sedari tadi dia bicarakan adalah kenyataan yang sangat jauh dari manis. Asem. Kayak asem jawa kalau diemutin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s