Denial Pessimistic

Denial Pessimistic

Karena belum tidur semalaman, saya menghabiskan fajar dengan termenung setelah iseng scrolling followers di instagram dan menemukan beberapa mantan saya. Beberapa dari mereka sudah menikah. Beberapa lagi sedang mempersiapkan acara pernikahan mereka. Bukan iri, faktanya saya dengan tulus ikut berbahagia untuk mereka. Hanya agak sedikit membuat saya berpikir bahwa sesungguhnya saya pernah mendapatkan kesempatan untuk bisa menjadi their “the one”. Jadi apa yang saya lewatkan?

Bahwa faktanya saya trauma akan hubungan itu sendiri. Bahwa faktanya saya mungkin yang melewatkan mereka, bukan sebaliknya. Bahwa saya terlalu terlena dengan kesendirian yang akan sedikit berlebihan saya sebut, fana. Bahwa faktanya jauh dalam hati, saya tak tertarik menghabiskan sisa hidup saya dalam pernikahan. Dalam cinta (atau apapun itu), yang mengikat sehidup semati. Saya merasa sudah kehilangan esensi dari  cinta (lagi-lagi, atau apapun itu). Itu hanya ucapan. Something “deeper” someone said just to get into their pants.

Saya tidak mengais sebuah pernikahan. Atau seorang jodoh. Saya percaya bahwa sesuatu yang sudah ditakdirkan menjadi milik kita, pada akhirnya, dengan cara seperti apapun, tetap akan berakhir di kita. Tapi saya tidak atau mungkin belum menginginkan pernikahan. Saya hanya ingin bahagia, bekerja di bidang yang saya sukai, menikmati hidup dan membahagiakan orang-orang di sekitar saya. Bagi saya, hidup lebih dari sekedar dengan siapa kita akan menikah nanti. Hidup bukan cuma tentang cinta melulu.

Or am I just being a denial-pessimistic?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s