17 Januari

17 Januari

Ceritakan padaku dunia di bawah sana. Alam yang belum kusentuh, dan semoga tak cepat-cepat. Baik kabarmu? Semoga Tuhan dan para malaikat-Nya berbaik hati padamu. Dari sini aku hanya mampu memanjatkan doa. Aku rindu, terlalu rindu. Padamu yang tak sempat kulepas dengan lega.

17 Januari kemarin adalah hari kelahiranmu. Tahun ini harusnya umurmu menginjak 64 tahun. Sayang, Tuhan memanggilmu lebih cepat dari harapanku. Belum pernah sekalipun dalam ingatanku, kita meniup lilin saat ulang tahunmu. Bagaimana bisa doaku agar panjang umurmu kalau kau pun sudah tiada, Ayah? Keluh kesah dan ceritaku banyak terpendam, tak sempat kubagi denganmu. Ingin kuperkenalkan anak semata wayangku pada Kakek yang hanya bisa dia lihat dari foto yang kupajang di atas piano. Ya, piano yang kau beli untukku. Piano yang meski sudah lapuk dan tak pernah lagi kumainkan, tak sampai hati kujual. Hanya itu sisa milikku yang khusus kau berikan padaku.

Ayah, rindukah kau pada anakmu ini? Pada istrimu? Mungkin kau pun ingin mengucap selamat tinggal yang lebih pantas kepada kami. Aku tak pernah tahu. Karena selama hidupmu, sejak aku mengerti bagaimana hidup kita begitu rumit dan kompleks, rasa benciku mengalahkan cinta yang kumiliki untukmu.

Kunjungi aku lagi lewat mimpi, Ayah. Anakmu ini menghabiskan hampir setiap malamnya menangis merindukanmu. Menyesali semua perbuatanku, betapa bodohnya aku menyia-nyiakan waktu yang tak banyak untuk membencimu sampai jauh kedalam hati. Peluk aku walau hanya lewat mimpi, Ayah. Aku tak tahu bagaimana lagi caraku untuk bisa merasakan pelukmu yang seringkali kuabaikan. Kusalahkan kecewa dan gengsiku yang begitu besar dan tinggi, sampai momen berharga seperti itu pun kulewatkan. Bicaralah padaku dalam mimpi, Ayah. Aku benci kenyataan kalau aku sudah lupa suaramu.

Ayah, mungkin kau menatapku dengan kecewa saat ini. Betapa anakmu tak menjadi seperti apa yang kau mau. Maafkan aku dan segala kurangku. Tolong bimbing hatiku lurus dan sesuai perintah-Nya. Sekarang hanya tinggal Mama untuk aku bahagiakan. Aku tak mau hidup dalam penyesalan kedua kalinya karena lalai membahagiakan Mama. Sudah cukup sesalku hanya karena kau pergi begitu cepat tanpa sanggup aku membuatmu bangga. Aku tak mampu hidup bila tiba saatnya Mama pergi tanpa sempat aku bahagiakan.

Semoga tenang Ayah disana. Semoga diberikan tempat baik, paling baik untuk Ayah disana. Semoga kelak kita berkumpul lagi di alam, dunia atau mungkin kehidupan yang berbeda. Anakmu sudah ikhlas dan sedang belajar memaafkan. Anakmu sedang mencoba menghargai hidup dan mencintai dirinya lagi. Semoga sampai doaku kepadamu.

Selamat ulang tahun, Ayah. Ade selalu sayang Ayah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s