Signed, Sealed, Delivered to: The Almighty God in Heaven

Signed, Sealed, Delivered to: The Almighty God in Heaven

— prolog

pada akhirnya yang mengelabu, meredup; bukan cuma aku.

padahal dengan segala pengetahuanmu tentang lapisan demi lapisanku; aku akan melemah dan kamu sendiri tersiksa.

tapi pendirian itu sudah kokoh, lagi-lagi keputusan tanpa diskusi, tanpa tukar pikiran, hanya makian dan bersisa sesal; aku, kamu, sama.

•••

bagaimana bisa Dia membiarkanku merasa kalau pada akhirnya tak Dia relakan aku dan dirinya bersama? pantaskah aku yang hanya setitik debu di mata-Nya, yang eksistensinya di semesta bahkan untuk orang di sekelilingnya tak berpengaruh apa-apa, menuntut jawab dari pertanyaan yang menghantuinya? pantaskah seorang seperti aku meminta terus menerus keringanan dan mendapatkan yang kumau? meski di titik ini, kuragu bahwa memang dia yang ku mau. bagaimana bisa bila cerita rasa itu hanya akan menjadi sebuah pelajaran dan bukan berkat, Dia tancapkan ku jatuh terlalu jauh dan dalam? bukankah ini terasa seperti pengulangan rasa yang tak jauh berbeda; bahwa aku sudah melalui dan berhasil melewatinya dan berdiri disini tetaplah bukan alasan untuk mengulang perihnya lagi ‘kan?

•••

ah, Kamu.. aku tak ingin berargumen bahwa Kau sedang mempermainkanku. aku lelah melawan-Mu. mungkin caraku salah. mungkin harusnya aku ikuti alur-Mu dan memasrahkanku pada jalan cerita yang Kau buat. tapi tolong, rasa ini sungguh sudah kucoba tahan dan lawan, tapi aku tak sedang mengobati ini. aku hanya sibuk memasang barikade sembari menunggu titik batasnya dan habis sudah pertahananku dan aku kembali kemana aku bermula. tegakah Kau padaku? mungkin Kau pikir aku akan lebih kuat dari yang lalu, tapi yang diambilnya adalah sisa-sisa lalu yang aku punya. kalau tak kudapatkan lagi semua itu, habis sudah aku dibuat oleh-Mu, tahukah?

ahh.. sesungguhnya sering aku hanya ingin merasa yakin bahwa pilihanku sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang Kau rancang untukku. lebih seringnya lagi, aku berharap Kamu bisa benar-benar memerintah langsung layaknya seorang tua pada anaknya. Biar bagaimana, akan menyenangkan untuk dimanjakan dan diperhatikan oleh-Mu Yang Menciptakan aku. sekarang yang terjadi aku menerka, apakah ini betul atau itukah yang benar? bahkan kehadiran akan seseorang yang cukup baik saat ini membuatku ragu bukannya bersyukur. permainan macam apa lagi ini yang Kau mainkan padaku? sebuah tes kah dia yang Kau kirim? atau petunjuk menuju hal baik atau hadiah atas ketulusan niatku yang Kamu tahu betul kebenarannya? bisakah sekali saja kirimkan aku buku manual untuk melanjutkan sisa umurku? ah ya, itulah yang disebut Al-Quran. kalau boleh jujur, segala bahasa yang tersirat dan terlalu banyak penafsiran melelahkan pikiran duniawiku. dan Kau ciptakan manusia dengan segala akal pikiran khusus milik makhluk paling sempurna hingga mereka menjadi lupa diri, mengartikan semuanya sesuai yang mereka mau dan cocok dengan diri masing-masing. bagaimana bisa kebenaran artinya tersadurkan dengan baik kalau begini?

tapi dipikir-pikir, mungkin itu yang Kamu mau ya. untukku berpedoman. betapa aku menginginkan Kau berikan perintah langsung, sebegitu lupanya aku bahwa semua tertuang dari ribuan tahun lalu di kitab agamaku. maafkan aku yang sedang menerawang dan mencari keyakinan. untukku hanya perlu yakin. tak perlu masuk logika. bahkan ketika aku berkaca dan bertanya “Siapa kamu?” pada diriku sendiri, pikiranku menjadi logika lepas dengan segala kemungkinan yang ada. tapi tahu ‘kan Kamu kalau aku Kau cipta dengan berpusatkan pada rasa? jadi mari bicara tentang itu layaknya aku sedang meminta tolong karena memang itu yang aku lakukan saat ini.

kali ini, sungguh ku mohon. demi segala hal yang aku telah lalui, segala hal yang aku pernah miliki dan kini tak lagi ku punyai. demi segala hal yang mengharukanku dengan bahagia meski itu menjadi tangis, segala hal yang menjadi asal muasal sanubariku menjerit. demi segala hal yang aku perjuangkan, sayangi dan pedulikan… kali ini. bisakah Kau, untukku, kumohon untuk menjauhkan segala hal dan semua orang yang tak baik untukku, dan dekatkan aku pada yang Kau suratkan dulu itu saat Kau menghadirkanku ke semesta-Mu? setidaknya tunjukkanlah (petunjuk yang lebih tegas) untuk yang sudah Kau suratkan untukku; apa-apa yang memang pergi untuk tak (lagi) kembali, apa-apa yang masih ada dan seharusnya tiada, apa-apa yang tidak dimiliki tapi adalah suratan takdir. karena aku ini Kau ciptakan dengan ketidakpekaan dan buruk dalam menerka-nerka.

dan Kau pun menyadari pasti, 24 tahun sudah cukup untuk bermain-main. menua adalah pasti, tapi bermanfaat adalah sebuah pilihan. dan aku ingin bermanfaat, setidaknya untuk 1 orang yang pernah tumbuh dalam tubuhku yang tak seberapa ini. bahkan bila bahagianya adalah deritaku. dan situasiku yang sedikit malfungsi di pusat kehidupanku ini menghambat keputusan yang tak lain juga adalah ketulusanku yang paling sungguh-sungguh.

Tuhan, tak perlu ‘kan Aku meneriakkan langit demi suaraku terdengar. Aku berpikir bahwa semua adegan memarahi-Mu yang tak perlu di film-film itu memang terlalu berlebihan. Jadi ini dalam hatiku saja, hanya menjadi bisikanku pada-Mu yang semoga akan Kau pertimbangkan baik-baik. Ini cerita dua per tiga malamku kepada-Mu. Meski ini bukanlah saat terbaik dalam hidupku untuk meminta pada-Mu, aku tahu Kau mendengarkan ocehan yang kutuliskan dan kukirimkan ke singgasana-Mu yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui agar Kau bisa memajang ini di hadapan-Mu dan tak pernah lupa akan pintaku.

Selamat pagi, Tuhan. Hari baru dengan kesempatan hidup sekali lagi hari ini. Terima kasih. I love you.

Advertisements
Cliche.

Cliche.

I must say this..

I am so very sorry. That the way things ended are not exactly like we both imagined. But I can’t be with you and imagining (while hoping) that you were someone else. Although your intentions are something that I really want, I just can’t picture myself with someone else but him. And that’s totally unfair for you. To have feelings for me, to developed comfort with a girl that can’t stop thinking about someone else when she’s with you. I totally understand if you ended up hating me. That’s fine and understandable. This one, the blame is on me.

The last few days had been fun. You were great. And as cliche as it sounds, it’s not you, it’s me. I still have so many boxes to packed before I leave the house.

I hope you understand.

Percakapan.

Percakapan.

Saya duduk di tempat istirahat petugas kebersihan gedung tempat saya bekerja. Menatap kosong ke arah gedung sebelah. Cuma jendela dan cat abu-abu. Setidaknya saya bisa menatap kosong tanpa takut ada gangguan. Setidaknya saya bisa menangis diam-diam tanpa ada seorang pun melihat. Tak lama, datanglah si petugas kebersihan. Melepas lelah, dia datang dengan segelas kopi dan seungkus rokok kretek. Tampak kaget melihat saya yang biasanya ceria dan ramai, duduk termenung sambil menyeka air mata. Dia hanya duduk diam dalam keheningan. Menghisap kreteknya dalam-dalam, memandangi cat abu-abu dan jendela yang sama bisunya seperti saya. Canggung, dia menawarkan saya minum.

“Mbak, mau minum?”, sambil menyodorkan segelas air putih. Raut wajahnya tampak iba dan simpatik.

“Nggak, pak. Makasih..” saya menolak sopan sambil tersenyum. Masam.

Kami kembali diam dalam keheningan yang kental dan terasa canggung.

“Dulu, waktu saya kecil Bapak saya pernah nyeletuk kalau perempuan punya air mata suci. Saya nggak ngerti awalnya.”, ucapan si Bapak Petugas Kebersihan memecah keheningan.

“Tapi semakin saya besar semakin saya ngerti. Kenapa Bapak saya ngomong begitu. Selama saya hidup, nggak pernah sekalipun Ibu saya meneteskan air mata karena Bapak saya. Bapak saya emang bukan lelaki sempurna, tapi dia ngerti cara mencintai dan cara memperlakukan Ibu saya. Sekalipun Ibu saya salah, beliau nggak pernah membiarkan Ibu saya nangis. Karena buat beliau, air mata Ibu saya sama seperti air mata Ibu-nya. Suci. Bagi Bapak saya, haram kalau sampai istrinya menangis karena sedih.”, dia melanjutkan ceritanya. Tanpa bertanya kenapa. Tanpa bertanya ada apa.

Saya terenyuh dan kembali pecah oleh air mata. Air mata yang tadinya cuma menggenang di pelupuk mata, menetes satu-satu.

“Saya nggak tau kenapa Mbak nangis. Tapi saya tau Mbak sedih dan seperti kehilangan. Sering manusia sibuk berkutat sama kesedihannya. Nyari jawaban kemana-mana buat ngilangin sedihnya. Cari pelampiasan, kadang bukan pelampiasan yang baik. Keliling kesana kemari nyari yang nggak bisa dia temuin. Saya juga suka gitu. Saya suka lupa kalau jawaban yang saya cari jaraknya cuma antara kepala dan sajadah.”

Bapak Petugas Kebersihan membuka laci coffee table dan memberikan tissue. Senyumnya tampak tulus.

“Mungkin, yang Mbak cari selama ini ada di depan mata Mbak. Tapi Mbak nggak sadar karena terlalu sibuk sama hal lain.”

“Saya sholat jumat dulu ya, Mbak..”, Bapak Petugas Kebersihan pamit dan meninggalkan saya dengan menohok hati kecil saya.

Mati dalam Hati

Mati dalam Hati

“Kamu kehilangan esensi akan rasa itu sendiri.”
“Kamu tak lagi menggantungkan duniamu pada orang lain.”
“Kamu merasa seperti yang lain, kamu pikir. Padahal perasaan yang kamu miliki saat ini hanya gumpalan daging tak berarti.”
“Kamu lelah, tapi tak mau berhenti berlari.”
“Kamu mencinta dirimu terlalu banyak untuk dapat kamu bagi dengan orang lain.”
“Kamu adalah apa yang kamu keluhkan keegoisan. Atas segala makna, kamulah Dewi-nya.”
“Kamu melihat dengan mata yang tak lagi sama.”
“Pun mendengar, dengan telinga yang berbeda.”
“Kamu nelangsa, tapi enggan berbagi asa.”
“Kamu menyesatkan jiwa yang sudah lama mencari jalan kembali.”
“Kamu.. Melelahkan orang lain yang ingin ikut berjuang bersamamu. Menyesatkan hati orang lain yang dititipkan di kamu. Menyakiti tanpa sadar. Menggantungkan tanpa harapan. Kamu ingin berbagi dengan intensi yang hampir tak ada untuk berbagi. Kamu paradoks hidup paling nyata yang pernah saya temui.”

Dan saya kalem menyesap kopi dari cangkir. Tak merasa. Tak terganggu. Mati dalam hati.

Bayang Pertanda

Bayang Pertanda

“Kira-kira ada berapa banyak pertanda yang hanya berbayang tak sampai?”
“Entah, tak peduli.”
“Tengoklah sedikit sekitarmu, mungkin karena acuhmu, pertanda tinggal bayang yang tak sempat sampai.”

Mungkinkah selama ini yang saya (pikir) cari ada di depan mata? Membayangi, membuntuti, menatapi, mengawasi dari jauh, tapi tak pernah sampai di muka. Timbul tenggelam hingga sampainya nanti ia lelah dan pergi untuk akhiran (baginya) yang lebih baik?