sinking boat

sinking boat

on the day that you walked away

i could hear your heart breaking

i could feel your tears streaming down

i can not blame you

for not choosing to stay

and who am i to stop you?

who am i to stand on your way?

 

i am too afraid

full of shame

i know there’s nothing i can do no more

you made your bed for both of us

and so be it

 

i will never find any man like you

willing to see beneath my flaws and mistakes

and loving me as it is

 

with you leaving

you wiped it clean on me

the love story we had

feels like made for drama

with you leaving

you left me empty

since you took everything

and left me with nothing

 

i am the sinking boat on the ocean

and your my lighthouse

whose just turn off the light

i can not find my way home anymore

it’s all darkness

and i am slowly drowning

 

see, you’re my only map

to the hunt of happiness

how could i go when i am blinded?

will you give me just one more chance

cause there’s more in me

only for you

Percakapan.

Percakapan.

Saya duduk di tempat istirahat petugas kebersihan gedung tempat saya bekerja. Menatap kosong ke arah gedung sebelah. Cuma jendela dan cat abu-abu. Setidaknya saya bisa menatap kosong tanpa takut ada gangguan. Setidaknya saya bisa menangis diam-diam tanpa ada seorang pun melihat. Tak lama, datanglah si petugas kebersihan. Melepas lelah, dia datang dengan segelas kopi dan seungkus rokok kretek. Tampak kaget melihat saya yang biasanya ceria dan ramai, duduk termenung sambil menyeka air mata. Dia hanya duduk diam dalam keheningan. Menghisap kreteknya dalam-dalam, memandangi cat abu-abu dan jendela yang sama bisunya seperti saya. Canggung, dia menawarkan saya minum.

“Mbak, mau minum?”, sambil menyodorkan segelas air putih. Raut wajahnya tampak iba dan simpatik.

“Nggak, pak. Makasih..” saya menolak sopan sambil tersenyum. Masam.

Kami kembali diam dalam keheningan yang kental dan terasa canggung.

“Dulu, waktu saya kecil Bapak saya pernah nyeletuk kalau perempuan punya air mata suci. Saya nggak ngerti awalnya.”, ucapan si Bapak Petugas Kebersihan memecah keheningan.

“Tapi semakin saya besar semakin saya ngerti. Kenapa Bapak saya ngomong begitu. Selama saya hidup, nggak pernah sekalipun Ibu saya meneteskan air mata karena Bapak saya. Bapak saya emang bukan lelaki sempurna, tapi dia ngerti cara mencintai dan cara memperlakukan Ibu saya. Sekalipun Ibu saya salah, beliau nggak pernah membiarkan Ibu saya nangis. Karena buat beliau, air mata Ibu saya sama seperti air mata Ibu-nya. Suci. Bagi Bapak saya, haram kalau sampai istrinya menangis karena sedih.”, dia melanjutkan ceritanya. Tanpa bertanya kenapa. Tanpa bertanya ada apa.

Saya terenyuh dan kembali pecah oleh air mata. Air mata yang tadinya cuma menggenang di pelupuk mata, menetes satu-satu.

“Saya nggak tau kenapa Mbak nangis. Tapi saya tau Mbak sedih dan seperti kehilangan. Sering manusia sibuk berkutat sama kesedihannya. Nyari jawaban kemana-mana buat ngilangin sedihnya. Cari pelampiasan, kadang bukan pelampiasan yang baik. Keliling kesana kemari nyari yang nggak bisa dia temuin. Saya juga suka gitu. Saya suka lupa kalau jawaban yang saya cari jaraknya cuma antara kepala dan sajadah.”

Bapak Petugas Kebersihan membuka laci coffee table dan memberikan tissue. Senyumnya tampak tulus.

“Mungkin, yang Mbak cari selama ini ada di depan mata Mbak. Tapi Mbak nggak sadar karena terlalu sibuk sama hal lain.”

“Saya sholat jumat dulu ya, Mbak..”, Bapak Petugas Kebersihan pamit dan meninggalkan saya dengan menohok hati kecil saya.

17 Januari

17 Januari

Ceritakan padaku dunia di bawah sana. Alam yang belum kusentuh, dan semoga tak cepat-cepat. Baik kabarmu? Semoga Tuhan dan para malaikat-Nya berbaik hati padamu. Dari sini aku hanya mampu memanjatkan doa. Aku rindu, terlalu rindu. Padamu yang tak sempat kulepas dengan lega.

17 Januari kemarin adalah hari kelahiranmu. Tahun ini harusnya umurmu menginjak 64 tahun. Sayang, Tuhan memanggilmu lebih cepat dari harapanku. Belum pernah sekalipun dalam ingatanku, kita meniup lilin saat ulang tahunmu. Bagaimana bisa doaku agar panjang umurmu kalau kau pun sudah tiada, Ayah? Keluh kesah dan ceritaku banyak terpendam, tak sempat kubagi denganmu. Ingin kuperkenalkan anak semata wayangku pada Kakek yang hanya bisa dia lihat dari foto yang kupajang di atas piano. Ya, piano yang kau beli untukku. Piano yang meski sudah lapuk dan tak pernah lagi kumainkan, tak sampai hati kujual. Hanya itu sisa milikku yang khusus kau berikan padaku.

Ayah, rindukah kau pada anakmu ini? Pada istrimu? Mungkin kau pun ingin mengucap selamat tinggal yang lebih pantas kepada kami. Aku tak pernah tahu. Karena selama hidupmu, sejak aku mengerti bagaimana hidup kita begitu rumit dan kompleks, rasa benciku mengalahkan cinta yang kumiliki untukmu.

Kunjungi aku lagi lewat mimpi, Ayah. Anakmu ini menghabiskan hampir setiap malamnya menangis merindukanmu. Menyesali semua perbuatanku, betapa bodohnya aku menyia-nyiakan waktu yang tak banyak untuk membencimu sampai jauh kedalam hati. Peluk aku walau hanya lewat mimpi, Ayah. Aku tak tahu bagaimana lagi caraku untuk bisa merasakan pelukmu yang seringkali kuabaikan. Kusalahkan kecewa dan gengsiku yang begitu besar dan tinggi, sampai momen berharga seperti itu pun kulewatkan. Bicaralah padaku dalam mimpi, Ayah. Aku benci kenyataan kalau aku sudah lupa suaramu.

Ayah, mungkin kau menatapku dengan kecewa saat ini. Betapa anakmu tak menjadi seperti apa yang kau mau. Maafkan aku dan segala kurangku. Tolong bimbing hatiku lurus dan sesuai perintah-Nya. Sekarang hanya tinggal Mama untuk aku bahagiakan. Aku tak mau hidup dalam penyesalan kedua kalinya karena lalai membahagiakan Mama. Sudah cukup sesalku hanya karena kau pergi begitu cepat tanpa sanggup aku membuatmu bangga. Aku tak mampu hidup bila tiba saatnya Mama pergi tanpa sempat aku bahagiakan.

Semoga tenang Ayah disana. Semoga diberikan tempat baik, paling baik untuk Ayah disana. Semoga kelak kita berkumpul lagi di alam, dunia atau mungkin kehidupan yang berbeda. Anakmu sudah ikhlas dan sedang belajar memaafkan. Anakmu sedang mencoba menghargai hidup dan mencintai dirinya lagi. Semoga sampai doaku kepadamu.

Selamat ulang tahun, Ayah. Ade selalu sayang Ayah.

That One Lucky Bitch

That One Lucky Bitch

That one lucky bitch got herself the prince charming she’s been craving for years. The one who makes her laugh the purest, smile the brightest and live the happiest. The one who has the most warmest hugs and sweetest kisses. The one whose she’s willing to fight for. The one that successfully stole every bit of whatever’s left from her.

That one lucky bitch finally found someone worth the miles. She’s finally putting an end to her endless journey of Finding Mr. Right. Because now, that one lucky bitch got herself a one big Mr. So Damn Fucking Right.

PS : I love you.

Run.

Run.

“…Cause, darling, I’m a nightmare dressed like a daydream..”

I’m pretty much the girl in that Taylor Swift song. The difference is, am so not a blank space. I have writings all over my body. I have things you wanna see and too many things you really don’t wanna know, let alone see. I could play you like a puppet on a string. Oh, boy, you know nothing ’bout it. Though I could be the one whose played. It all depends on the mood and the heart.

I am a jerk, a liar and a cheater. I could do you and two other people after that all in the same day, cause I want to. I mess with you, because I could care less about you. Sometimes, I will not be using my logic nor my heart to do stuff that surely will hurt you.

I can make you fall all over me, be the person you wanted me to be, sell you the girl you have been waiting for. And just like that, I will crush you down so hard and bad, you would wish you had never met me. I am that manipulative bitch who will stole your heart and mind, and hurt you just in a blink of an eye.

I am not capable of committing myself to a long-term love relationship. I had stop believe in people. I pushed people away, because I am not capable to get close with any of them. You and I could have fun at this moment, but a minute after, you might hate me so much.

I seek enemies, not friends. I say things that will hurt you, I do stuff that will make you hate me.

Don’t love me. Don’t fall for me. Don’t even think to know me better. I will bleed you till your last drop of blood. I will make you suffer till you’re out of breath. I will hunt you down and eat your soul whilst you feel your chest hurts.

Run, baby, run. Run for your life before I make you my next victim.

Kepada Kamu yang Masih Menjadi Bayangku Setiap Malam.

Kepada Kamu yang Masih Menjadi Bayangku Setiap Malam.

Image

 

Denting piano yang kamu mainkan masih membekas jelas di kupingku.

Meninggalkan jejak-jejak nada yang enggan aku hentikan di kepalaku.

Lamat-lamat memudar ditelan kala. Meski aku masih memuja, penuh harap agar jangan sampai terlupa.

 

Tapi memoriku tak kuat menampung kamu yang terlalu lama terlewat.

Meski telah sekian tahun kupertahankan kenangan akan kamu.

Aku takut merindu terlalu rindu.

Pada siapa harus aku benamkan rinduku kalau kenanganmu menghilang?

 

Kutitipkan segenap doa yang belum lelah kupanjatkan. Mengarahmu dan tiada lain kamu.

Semoga sampai, karena entah lewat mana lagi pesan dan harapanku sampai padamu.

Aku tak sampai hati lagi membencimu. Aku terlalu berharap kamu masih disisiku. Memanjaku.

 

Ayah, segenap cintaku belum lelah aku kirimkan lewat Tuhan untukmu.

Aku rindu belai penuh kegemasan darimu.

Aku rindu perdebatan yang tak pernah selesai di antara kita.

Aku rindu pelukmu yang kerap menenangkan aku yang penuh luka pilu.

Aku rindu tawamu di antara makan siang kita.

Ingatkah kamu akan aku, anakmu?

Semoga jawabanmu sesuai inginku, Ayah.

Karena aku belum pernah melewatkan malam tanpa mengingatmu.

 

Dengan peluk dan kecup,

 

Anakmu yang lelah merindu.

Kenyataan Asem (Jawa)

Kenyataan Asem (Jawa)

Setelah melalui beberapa hubungan yang salah dan salah banget setelah punya anak, saya merasa seperti berada di ambang menikah dan tidak menikah. Rasanya sulit sekali membuka hati selebar gerbang Istana Bogor karena setiap orang yang saya pacarin seringkali meleset dari tepat. Meleset jauh. Kemudian mengobrol lah saya dengan salah satu sahabat saya yang enggan namanya dijadikan kambing hitam di tulisan saya ini.

 

Aysa : Sebenernya sih gue udah males pacaran. Capek hati, tenaga, pikiran dan salah terus kayaknya pacaran sama siapapun.

 

Tanpa tedeng aling-aling, sahabat saya menjawab sambil menghisap rokok Marlboro putih-nya dalam-dalam.

 

Dia : Mungkin lo belum move on dari si itu.

 

Si itu disini yang dia maksud adalah you-know-who-left-the-most-beautiful-scar yang saya pun enggan menyebutkan namanya.

 

Aysa : Enak aja. Udah dari kapan tahu gue nggak inget-inget dia lagi. Masa kayak gitu disebut belum move on.

Dia : Ya abisnya, ada aja yang salah kan dari setiap cowok yang deketin lo atau pacaran sama lo.

Aysa : Tapi kan bukan berarti gue belum move on dari si itu.

Dia : Terus apa dong? Semua kan bermula dari sejak lo punya anak.

Aysa : Tapi kan bukan berarti gue belum move on.

Dia : Tapi kan bukan berarti juga dengan lo nggak inget-inget dia lagi, lo udah move on.

Aysa : Ya udah move on lah. *kesel*

Dia : Aysa, lo boleh bilang lo udah move on atau lo udah nggak pernah kepikiran dia lagi. Tapi, hubungan lo sama dia tuh punya arti lebih dibanding hubungan lo sama siapapun. Sekebal-kebalnya lo, tetep aja perasaan yang lo punya ke dia, stay disitu. Nggak akan kemana-mana, cuma ditutupin aja dengan kepura-puraan lo selama ini.

Aysa : Nggak, ah.

Dia : Nggak percaya? Coba telaah sendiri kenapa setiap hubungan lo selalu gagal. Karena lo nggak melihat pria-pria lain sebagaimana diri mereka sendiri. Lo tuh kayak nyari sosok si itu di diri setiap cowok yang deketin lo atau pacaran sama lo. Salah? Enggak. Cuma ya akui aja lo belum move on.

Aysa : ……. *hening*

 

Disitu, ada momen jleb banget buat saya. Apa benar kata-kata sahabat saya yang kayak Cenayang ini? Mungkin nggak saya hidup dalam denial terkeras selama beberapa tahun belakangan ini?

 

Dia : I don’t blame you, not even close to judging you. But let’s be honest, babe. That’s the ironic truth of your feelings. That’s the bitter truth of your life. All this years, you have never been able to moved on. It’s fine. Not your fault. Tapi coba deh lo pelan-pelan buka mata, hati, telinga, pikiran. Biar jernih. Masalahnya bukan ada di cowok-cowok yang deket sama lo. Tapi masalahnya ada di lo yang masih terjebak sama masa lalu lo. Let it go. Let things go.

 

Dan saya udah nggak tahu mau berargumen apalagi. Karena diam-diam, saya tahu apa yang sedari tadi dia bicarakan adalah kenyataan yang sangat jauh dari manis. Asem. Kayak asem jawa kalau diemutin.