Percakapan.

Percakapan.

Saya duduk di tempat istirahat petugas kebersihan gedung tempat saya bekerja. Menatap kosong ke arah gedung sebelah. Cuma jendela dan cat abu-abu. Setidaknya saya bisa menatap kosong tanpa takut ada gangguan. Setidaknya saya bisa menangis diam-diam tanpa ada seorang pun melihat. Tak lama, datanglah si petugas kebersihan. Melepas lelah, dia datang dengan segelas kopi dan seungkus rokok kretek. Tampak kaget melihat saya yang biasanya ceria dan ramai, duduk termenung sambil menyeka air mata. Dia hanya duduk diam dalam keheningan. Menghisap kreteknya dalam-dalam, memandangi cat abu-abu dan jendela yang sama bisunya seperti saya. Canggung, dia menawarkan saya minum.

“Mbak, mau minum?”, sambil menyodorkan segelas air putih. Raut wajahnya tampak iba dan simpatik.

“Nggak, pak. Makasih..” saya menolak sopan sambil tersenyum. Masam.

Kami kembali diam dalam keheningan yang kental dan terasa canggung.

“Dulu, waktu saya kecil Bapak saya pernah nyeletuk kalau perempuan punya air mata suci. Saya nggak ngerti awalnya.”, ucapan si Bapak Petugas Kebersihan memecah keheningan.

“Tapi semakin saya besar semakin saya ngerti. Kenapa Bapak saya ngomong begitu. Selama saya hidup, nggak pernah sekalipun Ibu saya meneteskan air mata karena Bapak saya. Bapak saya emang bukan lelaki sempurna, tapi dia ngerti cara mencintai dan cara memperlakukan Ibu saya. Sekalipun Ibu saya salah, beliau nggak pernah membiarkan Ibu saya nangis. Karena buat beliau, air mata Ibu saya sama seperti air mata Ibu-nya. Suci. Bagi Bapak saya, haram kalau sampai istrinya menangis karena sedih.”, dia melanjutkan ceritanya. Tanpa bertanya kenapa. Tanpa bertanya ada apa.

Saya terenyuh dan kembali pecah oleh air mata. Air mata yang tadinya cuma menggenang di pelupuk mata, menetes satu-satu.

“Saya nggak tau kenapa Mbak nangis. Tapi saya tau Mbak sedih dan seperti kehilangan. Sering manusia sibuk berkutat sama kesedihannya. Nyari jawaban kemana-mana buat ngilangin sedihnya. Cari pelampiasan, kadang bukan pelampiasan yang baik. Keliling kesana kemari nyari yang nggak bisa dia temuin. Saya juga suka gitu. Saya suka lupa kalau jawaban yang saya cari jaraknya cuma antara kepala dan sajadah.”

Bapak Petugas Kebersihan membuka laci coffee table dan memberikan tissue. Senyumnya tampak tulus.

“Mungkin, yang Mbak cari selama ini ada di depan mata Mbak. Tapi Mbak nggak sadar karena terlalu sibuk sama hal lain.”

“Saya sholat jumat dulu ya, Mbak..”, Bapak Petugas Kebersihan pamit dan meninggalkan saya dengan menohok hati kecil saya.

Advertisements
A Poprock

A Poprock

Have you ever tried a poprock? It is a candy with popping sensation when it goes to your tongue. Like a little bomb, it’ll blow in your mouth. “Tss, tss, tsss”, is the sound of it. So calming and popping your mind out. Well, at least my mind popped every single time it melt in my tongue. It is sweet, actually. It has several flavours, but the one I love the most is strawberry. A classic one, I guess (I don’t really know, but I think everything has strawberry flavour). It is sweet and you’ll always crave for more. Anyway, if you haven’t tried one poprock, ever, in your whole life… You missed out the “Bazinga!” moment of your life.
I changed my twitter bio (@aysadihardjo), to this :

A poprock.

Because for some reason, I might have something in common with poprock. Some people (yes, some, because most will say that I’m jutek) said that I’m sweet. But behind all the sweetness, cuteness and other things, I stung. And some people (I will have em write it down so you’ll believe me), said that I, for some particular reason, had blown their mind out. Whether it was in a good way or not, I don’t care.
So, I’m a poprock. You wanna try? (poprock, not me, of course!) 😉

Standard

Speechless.

just when you thought your world can not be anymore worse, it is getting worst..

We always need that one moment of ‘me time’. Being all alone with ourself and us. Just to calm ourselves. Just to think everything through. Just to make us a bit more sane, than we were. But what if even a ‘me time’ is not helping anymore? What if what we really need is a moment to be on a space of infinity and sitting there for like ever? To be at our quiet moment. That even our mind are disabled to whisper, talk, yell, scream. To be at our peaceful moment. To be just with oxygen. Living, breathing, healing..

Because, somehow, we can’t talk about whatever is happening in our mind. Maybe it’s just because the randomness or simply we don’t have anything to say. We are just too speechless.

And I am too speechless. To talk. To think it through. I need me time.

Kamu. Ya, kamu. Bacalah :”)

Kamu. Ya, kamu. Bacalah :”)

Ku pikir hanya aku yang masih terjebak memori. Ku pikir hanya aku yang masih dihantui kenangan. Tapi ternyata kamu pun..
Ah lancangnya aku membicarakan kamu. Kita saja baru mengenal. Lewat sepatah dua patah kata. Barisan kalimat. Sepotong cerita. Diantara semangkuk mie-mu, semangkuk bakso kita berdua, berbatang-batang rokok. Dan percakapan melantur menuju pagi. Ada entah apa di situ yang aku telah lama cari dan rindukan. Ada kehangatan dalam matamu yang membuat candu. Ada kepolosan salah tingkahmu yang aku penasaran. Ada kamu, meski sedikit saja, yang begitu (mungkin) karena aku.
Sekali lagi aku lancang membicarakanmu. Padahal jemari pun baru berjabat beberapa saat yang lalu. Perkenalan atau apapun itu, membuatku tak berhenti menyunggingkan senyum. Sepanjang perjalanan pulang dan begitu seterusnya setiap kamu mampir di hari-hariku. Aku tak mau berhenti. Aku ingin begini setiap hari. Aku kangen perasaan ini. Menyenangkan. Untukku begitu, bagaimana dengan kamu?

Tunggu, aku belum bilang tentang merdunya suaramu yang menggema di pikiranku ya? Ah.. Aku larut dalam momen ketika kamu tak berhenti memetikkan jemarimu sambil melantunkan bait-bait nada. Terhipnotis sudah aku. Lihat, aku sudah lancang lagi kan membicarakanmu?
Dan pelukanmu.. Hangat. Menyihir. Menghilangkan akalku. Lembut. Membawaku sejenak meninggalkan dunia, menuju awan dan menjadi bodoh karena terlalu sedikitnya oksigen diatas sana. Aku dibuai kamu.. Meski kamu tak sadar, sedikit pun.
Lalu ketidak pedulianmu. Ah! Berhenti bermain-main dengan aku dan logikaku! Aku mulai hilang arah dan bermain hati. Aku pernah melalui ini, pernah selesai dengan urusan ini. Bahkan pernah berjanji takkan lagi terjatuh ke dunia sebelah sini. Tapi kamu tanpa sengaja dijatuhkan di atas aku. Mencari jalan untuk bisa mempermainkan pikiranku. Lalu perlahan mengobrak-abrik aku. Ah.. Kamu.. Aku habis kata..

Alive

Alive

Another sunrise, another morning, another hopes. Some of us living their dreams, some of us living the life we never expected. And I’m in between. As I open my eyes every morning, I learn how to live and be alive. Living every single day happily and effortlessly. Without any doubt and regret. I learn to just living the present day, forgive&forget the past, and planning the future days ahead.

Everytime I woke up, I just close my eyes for a sec and thanking God that I’m alive. I’m alive for another day with my son. Alive to be there for him. Alive to reach my hopes. Alive to love and be loved. Because every morning is another present. Just watch out for surprises you might get 😉

Happy weekend!

Can I Have It Back?

Can I Have It Back?

I took a step back when it comes to trusting people. I sometimes give away that too easily, I got broken-hearted. I might mingle well with people but I hardly could feel comfortable and safe. So when I’m finally open up with people, told them my stories, share them my secrets, let them have a little piece of what’s left from me.. It is a very big step for me. And I risked my heart by doing that.

Now when I risked it already, and about to be disappointed all over again.. Can I have it back? Can I have that little piece of me that I’ve given you back then? So I could feel a little less disappointed :”)