Cukup Begitu Saja

Cukup Begitu Saja

Maaf kalau maksud baikmu yang menanyakan kabarku tak ku hiraukan. Perkara ini tak semudah yang bisa terbayang olehmu. Tampak sepele mungkin, tapi sesingkat pertanyaanmu yang ingin tahu apakah aku baik-baik saja pun bisa menjadi sebuah lubang kunci di pintu yang akan membuatku ingin mencari kuncinya dan membuka pintunya atau bahkan mendobrak paksa. Dan aku tak ingin lagi. Untuk melalui semua naik dan turun, menghadapi kamu dan semua rasa itu lagi. Aku sudah melampaui batas mampuku dengan kamu. Dan untuk memulai segalanya lagi, semua perasaan itu lagi, aku tahu aku tak akan bisa lagi. Biarlah kita menjadi sebuah cerita yang kusimpan baik dalam memoriku, tertata di satu sudut rapi dalam kotak khusus milik kamu dan segala yang terjadi ketika aku dan kamu adalah kita. Selebihnya, biar kamu menjadi bagian dari doaku dan cukup begitu saja.

Advertisements
melepaskan.

melepaskan.

meski masih kurindu,

tapi ku tak lagi berperih rasa mengingatmu.

seakan telah ku selesaikan apa-apa yang bersarang memparasitkan hatiku.

tapi, bukan berarti hadirmu atau kabarmu atau apa-apa tentangmu tak melemahkanku.

bukan, bukan itu.

karena sungguh sedikit pemicu tentangmu mampu menggemuruhkan banyak rasa dan kenanganku.

benar-benar bisa menggoyahkan imanku untuk berkubang dalam sendu dan kelam.

bagaimana tidak?

kamu adalah segalanya bagiku.

yang menghidupkan sisa-sisaku

yang sudah lama mati suri,

mengajarkanku bagaimana caranya menggunakan hatiku lagi,

dan gelora hidup yang baru pertama kurasakan.

hanya saja, dada ini tak terhimpit sesak lagi,

tangisku sudah tak perlu kutahan lagi.

rela? belum sampai situ.

tak semudah itu, sayangku.

tapi aku sudah mengerti. akhirnya aku pahami.

dan benar-benar tulus merasa

bahwa semua rasa ini,

saat ini sudah pantas ku sebut cinta tulus,

meski sungguh klise dan menggelikan.

kenapa saat ini?

karena sekarang, aku rasa cukup untukku mencintaimu dengan seperti ini.

tak memaksa,

bukan diam-diam,

dan dengan tenang dari kejauhan.

siapapun kelak yang akan menjadi pilihanmu, yakinku akan menjadi wanita paling beruntung tanpa perlu iri-ku berada di antara. karena mungkin tulus tanpa dengki-ku bisa bertahan hanya sampai titik ini dulu.

•••

sayangku, bahagiamu dan terbaikmu adalah satu dari sekian doa yang paling rajin kupanjatkan diam-diam. agar kamu hanya selalu bahagia tanpa merasa nelangsa.

semoga selalu begitu, seperti sebelum adanya aku dan tetap begitu selayaknya tak pernah adanya aku.

sayangku,

dengan ini, kukembalikan milikmu.

ini; hati yang tak pernah teryakinkan, percaya yang berulang kali kupatahkan, kecewa yang terlalu sering kamu rasakan, airmata yang terlalu banyak kamu keluarkan, amarah yang terlalu sering kupancing, sakit hati yang sudah menjadi kebiasaan, cinta yang.. yah, cinta yang tak pernah sampai di titiknya untukku, sayang yang perlahan mereda dan peduli yang sudah terkikis.

dengan ini, kubebaskan kamu dari belengguku. kulepaskan kamu dari jerat ketidakrelaanku yang mungkin tak membayangimu, tapi aku tahu kalau ini akan menjadi langkah yang melegakan bukan hanya aku tapi juga kamu. untuk jalan kita yang pernah bersimpangan, sama sekali tak ada penyesalan dariku. hanya saja mungkin waktunya tidak tepat, mungkin situasinya tidak tepat atau mungkin kita memang bukan orang yang tepat untuk satu sama lain. sungguh takdir dan garis kehidupan manusia adalah rahasia semesta dan Ilahi yang terlalu dalam untuk ditelusuri.

•••

tolong,

salamkan rinduku, sayangku, peluk dan kecupku untuk kamu dengan caraku yang kamu semoga tak lupa. pudar, bukanlah bagian dari aku dan kamu; yang ini keyakinanku tak akan sedikitpun roboh.

– a

silver lining

silver lining

if only you knew;

that for you I will

sail thru the ocean

climb the highest mountain

jump off of the cliff

have a gun pointed between my eyes

and a sharpened knife ready to slit my artery,

that I will in every situation benefiting you,

trade my life with yours

just to prove how deep I’d fell

for you, my love

but that’ll be too much

(oh believe me, I know)

when all you needed is just

for me to make time

for me to keep my promises

for me to let my words be the only thing

that you hold on to

for me to not ever let you be disappointed even sad

but love,

life is like that and I am not perfect

my time is limited and 24 hour a day

will never be enough

I broke my promises and I bet

I will do that again

my words will be too slippery for you to hold on to

and sadly, disappointment is my expertise

——

I don’t know how to not

take you, my love, for granted

because too bad, I’ve been treated like that

for as long as I remember

I’m too used to be taken for granted,

so I’ve done nothing but the same

to people I love so very dearly

but for you, oh dear since you

since you’re here, all I wanna do is to be better

to be a better version of me

because deep down

I know and I want that

I deserve to be seen at my best for you

that to let you have a memory

of me being in pieces is never my option

——

see, they said changes has to be made for your own good, for yourself

but a trigger, your kind of trigger, is a good thing for a broken thing like me

you made me want to discover myself and found myself again

you made me want to forgive myself and love myself all over again

you are my change

and I don’t mind

because one thing I know for sure

that you are the only one I have for eternity

and I know that you love me just as I am

and that you, no matter what, will not ever leave me

——

thank you, my love, my angel, my world, my blessing, my galaxy, my son.

you, in your own unique and unexpected way has successfully teach me something so precious. you restored my faith in love. you healed me from my brokenness. you, with your smile, laughter, stubbornness, temper and sincere love has teach me that above everything; love conquers all.

to you, my dearly silver lining. salute.

belenggu rindu

belenggu rindu

usahaku patah bahkan saat aku baru hendak bersiap. semudah ucap kata “semoga bahagia” yang tak berarti bila ia tak disana.

dan segala kepura-puraan akan ketidakpedulian pun meradang, menyadari kalau ia tak mampu lagi menahan asa karena rindu terlalu bergelorakan rasa.

lalu sebenarnya, siapa yang lebih tahan?

aku?

kamu?

atau rindu?

atau bahkan,

segala yang kita pikir mampu membelenggu rasa?

dengan segala sisa yang ada,

aku; yang pernah dan tak ingin berhenti jadi milikmu.

Signed, Sealed, Delivered to: The Almighty God in Heaven

Signed, Sealed, Delivered to: The Almighty God in Heaven

— prolog

pada akhirnya yang mengelabu, meredup; bukan cuma aku.

padahal dengan segala pengetahuanmu tentang lapisan demi lapisanku; aku akan melemah dan kamu sendiri tersiksa.

tapi pendirian itu sudah kokoh, lagi-lagi keputusan tanpa diskusi, tanpa tukar pikiran, hanya makian dan bersisa sesal; aku, kamu, sama.

•••

bagaimana bisa Dia membiarkanku merasa kalau pada akhirnya tak Dia relakan aku dan dirinya bersama? pantaskah aku yang hanya setitik debu di mata-Nya, yang eksistensinya di semesta bahkan untuk orang di sekelilingnya tak berpengaruh apa-apa, menuntut jawab dari pertanyaan yang menghantuinya? pantaskah seorang seperti aku meminta terus menerus keringanan dan mendapatkan yang kumau? meski di titik ini, kuragu bahwa memang dia yang ku mau. bagaimana bisa bila cerita rasa itu hanya akan menjadi sebuah pelajaran dan bukan berkat, Dia tancapkan ku jatuh terlalu jauh dan dalam? bukankah ini terasa seperti pengulangan rasa yang tak jauh berbeda; bahwa aku sudah melalui dan berhasil melewatinya dan berdiri disini tetaplah bukan alasan untuk mengulang perihnya lagi ‘kan?

•••

ah, Kamu.. aku tak ingin berargumen bahwa Kau sedang mempermainkanku. aku lelah melawan-Mu. mungkin caraku salah. mungkin harusnya aku ikuti alur-Mu dan memasrahkanku pada jalan cerita yang Kau buat. tapi tolong, rasa ini sungguh sudah kucoba tahan dan lawan, tapi aku tak sedang mengobati ini. aku hanya sibuk memasang barikade sembari menunggu titik batasnya dan habis sudah pertahananku dan aku kembali kemana aku bermula. tegakah Kau padaku? mungkin Kau pikir aku akan lebih kuat dari yang lalu, tapi yang diambilnya adalah sisa-sisa lalu yang aku punya. kalau tak kudapatkan lagi semua itu, habis sudah aku dibuat oleh-Mu, tahukah?

ahh.. sesungguhnya sering aku hanya ingin merasa yakin bahwa pilihanku sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang Kau rancang untukku. lebih seringnya lagi, aku berharap Kamu bisa benar-benar memerintah langsung layaknya seorang tua pada anaknya. Biar bagaimana, akan menyenangkan untuk dimanjakan dan diperhatikan oleh-Mu Yang Menciptakan aku. sekarang yang terjadi aku menerka, apakah ini betul atau itukah yang benar? bahkan kehadiran akan seseorang yang cukup baik saat ini membuatku ragu bukannya bersyukur. permainan macam apa lagi ini yang Kau mainkan padaku? sebuah tes kah dia yang Kau kirim? atau petunjuk menuju hal baik atau hadiah atas ketulusan niatku yang Kamu tahu betul kebenarannya? bisakah sekali saja kirimkan aku buku manual untuk melanjutkan sisa umurku? ah ya, itulah yang disebut Al-Quran. kalau boleh jujur, segala bahasa yang tersirat dan terlalu banyak penafsiran melelahkan pikiran duniawiku. dan Kau ciptakan manusia dengan segala akal pikiran khusus milik makhluk paling sempurna hingga mereka menjadi lupa diri, mengartikan semuanya sesuai yang mereka mau dan cocok dengan diri masing-masing. bagaimana bisa kebenaran artinya tersadurkan dengan baik kalau begini?

tapi dipikir-pikir, mungkin itu yang Kamu mau ya. untukku berpedoman. betapa aku menginginkan Kau berikan perintah langsung, sebegitu lupanya aku bahwa semua tertuang dari ribuan tahun lalu di kitab agamaku. maafkan aku yang sedang menerawang dan mencari keyakinan. untukku hanya perlu yakin. tak perlu masuk logika. bahkan ketika aku berkaca dan bertanya “Siapa kamu?” pada diriku sendiri, pikiranku menjadi logika lepas dengan segala kemungkinan yang ada. tapi tahu ‘kan Kamu kalau aku Kau cipta dengan berpusatkan pada rasa? jadi mari bicara tentang itu layaknya aku sedang meminta tolong karena memang itu yang aku lakukan saat ini.

kali ini, sungguh ku mohon. demi segala hal yang aku telah lalui, segala hal yang aku pernah miliki dan kini tak lagi ku punyai. demi segala hal yang mengharukanku dengan bahagia meski itu menjadi tangis, segala hal yang menjadi asal muasal sanubariku menjerit. demi segala hal yang aku perjuangkan, sayangi dan pedulikan… kali ini. bisakah Kau, untukku, kumohon untuk menjauhkan segala hal dan semua orang yang tak baik untukku, dan dekatkan aku pada yang Kau suratkan dulu itu saat Kau menghadirkanku ke semesta-Mu? setidaknya tunjukkanlah (petunjuk yang lebih tegas) untuk yang sudah Kau suratkan untukku; apa-apa yang memang pergi untuk tak (lagi) kembali, apa-apa yang masih ada dan seharusnya tiada, apa-apa yang tidak dimiliki tapi adalah suratan takdir. karena aku ini Kau ciptakan dengan ketidakpekaan dan buruk dalam menerka-nerka.

dan Kau pun menyadari pasti, 24 tahun sudah cukup untuk bermain-main. menua adalah pasti, tapi bermanfaat adalah sebuah pilihan. dan aku ingin bermanfaat, setidaknya untuk 1 orang yang pernah tumbuh dalam tubuhku yang tak seberapa ini. bahkan bila bahagianya adalah deritaku. dan situasiku yang sedikit malfungsi di pusat kehidupanku ini menghambat keputusan yang tak lain juga adalah ketulusanku yang paling sungguh-sungguh.

Tuhan, tak perlu ‘kan Aku meneriakkan langit demi suaraku terdengar. Aku berpikir bahwa semua adegan memarahi-Mu yang tak perlu di film-film itu memang terlalu berlebihan. Jadi ini dalam hatiku saja, hanya menjadi bisikanku pada-Mu yang semoga akan Kau pertimbangkan baik-baik. Ini cerita dua per tiga malamku kepada-Mu. Meski ini bukanlah saat terbaik dalam hidupku untuk meminta pada-Mu, aku tahu Kau mendengarkan ocehan yang kutuliskan dan kukirimkan ke singgasana-Mu yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui agar Kau bisa memajang ini di hadapan-Mu dan tak pernah lupa akan pintaku.

Selamat pagi, Tuhan. Hari baru dengan kesempatan hidup sekali lagi hari ini. Terima kasih. I love you.

Cliche.

Cliche.

I must say this..

I am so very sorry. That the way things ended are not exactly like we both imagined. But I can’t be with you and imagining (while hoping) that you were someone else. Although your intentions are something that I really want, I just can’t picture myself with someone else but him. And that’s totally unfair for you. To have feelings for me, to developed comfort with a girl that can’t stop thinking about someone else when she’s with you. I totally understand if you ended up hating me. That’s fine and understandable. This one, the blame is on me.

The last few days had been fun. You were great. And as cliche as it sounds, it’s not you, it’s me. I still have so many boxes to packed before I leave the house.

I hope you understand.

Moving To The New House

Moving To The New House

Being constantly hopping from one guy to another from time to time, I think I need to stop and take sometime off the dating zone. The decision wasn’t made overnight, I actually think thoroughly about this. Because it will be a big step for me. It has never been easy for me being alone with myself. There’s this weirdly realistic fear that I keep pushing to the back door of my mind. For I love to have some times for myself, I actually hate the loneliness. I hate having no one to talk to.

Back in the uglier days, my family is totally uncountable for being a sharing partners, let alone a support group. But now things are getting brighter. I texted my Mother everyday, since now we live separately. Our relationship start to feel like old times and I like it. Things are great too with my sister and brother-in-law. The down part is just that because of this new job, I have to live in a different city with my son. And he started acting out because he feels left out by me. That actually the one thing that bugged me everyday. I constantly asking myself whether this is a good decision or not. But the future needs stability and this job does that and it keeps me sane and on track, too. Although it made me feel like I’m being Worst Mom of The Year. But there will always be sacrifices in every decision. I risked being the worst now if I could assured myself that my baby boy’s future is taken care of. In the end I should start relying on nobody but myself for the sake of both me and my son.

Anyway, back to the dating topic. I have this deep thought about myself from a very long time ago. But I think I was being too scared to face the real problem that I kept on making diversion and buried what was supposed to be handled years ago. According to this little research I did about myself, which actually I already knew this years ago, I have daddy issues. I keep on finding male figure in my life because as a child I didn’t have the attention and love I needed from my Father (Oh bless his soul in Heaven, Dear Lord). That was the easy part, to locate the first issue. But since there’s no highway to heaven, here comes the hard part. What should I do to fix my obviously (d’uh?) broken soul? Yup. The answer to that got me in a lot of trials and errors, until now.

I have tried so many ways, believe me, I have had plenty of ways you could never even imagined let alone hear. This topic might sounded a bit too much for other people, but I tracked down my life history and this motherfucken problem of freaking daddy issue is the smiling devil rooted in me. My whole life as I started to remember moments and feelings from my childhood, I always had this feeling of void that need something more than just a parade of different guys in my life. Either I fix it or I fill it. Technically speaking, I could always patch a void in my tire when its broken. What so different about this one, right? Just patch something up that childish, self centered, immature soul and start getting shit together as it supposed to be. Besides the fact that we actually talking about my soul, my unfulfilled childhood needs that causes me a lot of troubles in the future as a teenager and adult, my trust issues that has no boundaries whatsoever, my instinct that  I doubted all the time and always proves me to be nothing than so damn fucking right (I honestly think that my instinct has a vagina since it always have this needs to shoved “I told you!” right into my face, but don’t tell it I tell you about that). Oh right, my soul is no fucking tires.

Realizing the fact that I, apparently, surprisingly and very unlikely started to developed needs of stability in my life, I started making some options to actually do something that will change me into a better form of human being. And this decision popped out of my head just like that. It happened like that scene in the movie where there are three of you, the mind version of you and the heart version of you which obviously, are on the opposites side of each other, both trying to stating their version of pros and cons, cutting each other off sentences with screams and drama written all over the genre. The same old “I know better than you do”, “You always made the worst decision ever”, “Remember that time when you get to decide and you ended up in a deepest, ugliest part of your life, bitch?” kinda conversation. In this movie scene, thank God I finally get to be the reality version of me, the mature, the think-thoroughly-before-action kinda gal, tho.

So I have come to a very important and one of the biggest step and decision of my life. That the best thing to heal myself is to spend more time with my self. To get to know who and what kind really is the truest me. To listen more to that little voice of mine, the voice of conscious mind and purest heart of mine that has been forgotten way too long. To actually start to love myself instead of pretending to love the way I am and acting like I’m okay with it. To forgive the mistakes I’ve made to myself, the bad choices that got me in bad places, the things I’ve said and done to disgrace myself. To have peace and serenity with the past me, so I could fix myself in the present and ended up with a better me in the future.

In order to do that many homework, I don’t think I could keep up with a relationship or even flings. I have so many things in my plate right now, I need to clean it up all first before I could even think about relationship with a significant other. I just want to put everything where it supposed to be. Because life to me has been always a mess. This is like a massive cleaning and boxing before you moved out of your old house. You have to sort things out, which goes with you and which goes to the dumpster or Goodwill. Now I’m in the place where I have to moved out of my old, cozy yet unhealthy house to a house where broken and ugly things aren’t something you could have or afford. So it’s basically not an option. It’s just about time. And my clock is already ticking.

Because you can’t have the real thing with a real person when you yourself are superficial. And let’s just be real, those patches you’ve had so many in all these years, they aren’t really healing. They just covered the wound up, so whenever you feel like peeping on those wounds, the blood and flesh stay as fresh as if it were made yesterday and you could feel the pain all over again and you feel like having those wounds is the reasonable reason for being such a bitch in a crackhead butt.

Well, say bye-bye. Because we are so fixing this.