Marriage from The Perspective of A Never Been Married Yet Girl.

Marriage from The Perspective of A Never Been Married Yet Girl.

For someone whose never been married, I pretty much encounter a lot of marriage problems. As predicted, none of them was mine. I have always been on the other side, the listening ears. I, as a person who loves to analyze, have so much interest on psychology and pretty much love to learn human behavior, always sit tight and listen well. How the story-teller tells the story is always interesting. The gesture of their body speaks thousands language, how they sit interpret on what they feel about the problem, how they express their feelings thru every movement of their face muscles, the tone of their voice sums up what words can’t describe. Each story, takes me on a unique and different trip to their mind and heart. How much you get from one simple sentence will blow your mind. You see their pain, you feel the sadness, you got carried away with their misery, you cry as if it were you who went through all. And that, all from one story.

For the most intriguing, complicated, challenging stories, I took notes after. I analyze what really is the root of the problem. I sometimes do a follow up story, or a background check. Just to get my facts checked and my theory reasonable. It actually irritates me how sometimes the root of the problems and solutions is simpler than I thought it would be, yet walking the talk in real life is hard and tough. Or when you thought, “Oh this is the hard one”, yet everything seems to be going easier than expected and solved easily. And that time when the root of all problems caused by years of unexpressed feelings, untold traumas, shameful past that leads to unsolved years of problems and actually made you mentally ill and left you hidden scars for life.

The thing here is, as a person itself, they already pilled up with problems of their own. For every emotional, psychological, mental thing that they weren’t able to finish or solved. Those wounds that left untreated, those scars that keeps on reminding them of their pain. Each every one of them, has their own problems. They are born with feelings attached to their mind and heart that it made them vulnerable.

As in marriage, you need to be able to combine two person in one unity. Different backgrounds, different back stories, different habits, different characters, different wants and needs with the agenda of love, one vision and same goal. At first, it’s all sweet and easy. You are in the phase of adapting to one another, you tolerate the reckless behavior, you forgive the careless habits while hoping that your partner will change or at least consider your wants and needs as their priority. As the marriage continues, so does both of your life. The job, the house-works, the child, the big family matter, etc. The routines makes it impossible for you to spend quality time. Most of the days, you only talk to each other in the morning or when one of you aren’t asleep at night. Texts and phone calls has become your main lines of communication for both of your schedule or operational things that needs to be discussed together. Arguments and disagreements never reach a win-win solution anymore simply because none of you made an effort. And just like that, your marriage has turned into a chores you do everyday. It became a part of daily routines, it loses sparks. That person you decided to marry long ago for whatever reasons you had, turns into a housemate. Your marriage is not only drifted but also wasted and forgotten.

Read carefully each sentences on the paragraph above because this happens everywhere, on every couples with slightly different stories, every time. Also because, if you’re willing to see the bigger picture, you might be able to see what’s the problem and solutions.

Marriage is work. Marriage is something you put effort into, something you pay attention to, something that needs unlimited patience and tolerance, something that needs you to communicate, something that you do because you want it not because others tells you to.

Marriage is a journey. Marriage is taking your loved one on a theme park with so many rides. It will be long, sweet, romantic, terrifying, exhausting, scary, you might scream, full of happy or sad tears. It’s all up to both of you.

Marriage is a vow you made with your loved one in front of God. Marriage is that one time you blown away by their smile, when you want to know what they’re up to almost every minute, when all you can think about alone in the bedroom is how nice it would be if you could cuddle and fall asleep next to each other. Marriage is the reason you fell in love to that person, the reason why you chose them to have 50% genetics part of your child, the reason you want to travel the world together, the reason you want to grow old together.

Marriage is whether you and your partner chooses to synced in harmony or ruined in disaster.

Advertisements
Cukup Begitu Saja

Cukup Begitu Saja

Maaf kalau maksud baikmu yang menanyakan kabarku tak ku hiraukan. Perkara ini tak semudah yang bisa terbayang olehmu. Tampak sepele mungkin, tapi sesingkat pertanyaanmu yang ingin tahu apakah aku baik-baik saja pun bisa menjadi sebuah lubang kunci di pintu yang akan membuatku ingin mencari kuncinya dan membuka pintunya atau bahkan mendobrak paksa. Dan aku tak ingin lagi. Untuk melalui semua naik dan turun, menghadapi kamu dan semua rasa itu lagi. Aku sudah melampaui batas mampuku dengan kamu. Dan untuk memulai segalanya lagi, semua perasaan itu lagi, aku tahu aku tak akan bisa lagi. Biarlah kita menjadi sebuah cerita yang kusimpan baik dalam memoriku, tertata di satu sudut rapi dalam kotak khusus milik kamu dan segala yang terjadi ketika aku dan kamu adalah kita. Selebihnya, biar kamu menjadi bagian dari doaku dan cukup begitu saja.

melepaskan.

melepaskan.

meski masih kurindu,

tapi ku tak lagi berperih rasa mengingatmu.

seakan telah ku selesaikan apa-apa yang bersarang memparasitkan hatiku.

tapi, bukan berarti hadirmu atau kabarmu atau apa-apa tentangmu tak melemahkanku.

bukan, bukan itu.

karena sungguh sedikit pemicu tentangmu mampu menggemuruhkan banyak rasa dan kenanganku.

benar-benar bisa menggoyahkan imanku untuk berkubang dalam sendu dan kelam.

bagaimana tidak?

kamu adalah segalanya bagiku.

yang menghidupkan sisa-sisaku

yang sudah lama mati suri,

mengajarkanku bagaimana caranya menggunakan hatiku lagi,

dan gelora hidup yang baru pertama kurasakan.

hanya saja, dada ini tak terhimpit sesak lagi,

tangisku sudah tak perlu kutahan lagi.

rela? belum sampai situ.

tak semudah itu, sayangku.

tapi aku sudah mengerti. akhirnya aku pahami.

dan benar-benar tulus merasa

bahwa semua rasa ini,

saat ini sudah pantas ku sebut cinta tulus,

meski sungguh klise dan menggelikan.

kenapa saat ini?

karena sekarang, aku rasa cukup untukku mencintaimu dengan seperti ini.

tak memaksa,

bukan diam-diam,

dan dengan tenang dari kejauhan.

siapapun kelak yang akan menjadi pilihanmu, yakinku akan menjadi wanita paling beruntung tanpa perlu iri-ku berada di antara. karena mungkin tulus tanpa dengki-ku bisa bertahan hanya sampai titik ini dulu.

•••

sayangku, bahagiamu dan terbaikmu adalah satu dari sekian doa yang paling rajin kupanjatkan diam-diam. agar kamu hanya selalu bahagia tanpa merasa nelangsa.

semoga selalu begitu, seperti sebelum adanya aku dan tetap begitu selayaknya tak pernah adanya aku.

sayangku,

dengan ini, kukembalikan milikmu.

ini; hati yang tak pernah teryakinkan, percaya yang berulang kali kupatahkan, kecewa yang terlalu sering kamu rasakan, airmata yang terlalu banyak kamu keluarkan, amarah yang terlalu sering kupancing, sakit hati yang sudah menjadi kebiasaan, cinta yang.. yah, cinta yang tak pernah sampai di titiknya untukku, sayang yang perlahan mereda dan peduli yang sudah terkikis.

dengan ini, kubebaskan kamu dari belengguku. kulepaskan kamu dari jerat ketidakrelaanku yang mungkin tak membayangimu, tapi aku tahu kalau ini akan menjadi langkah yang melegakan bukan hanya aku tapi juga kamu. untuk jalan kita yang pernah bersimpangan, sama sekali tak ada penyesalan dariku. hanya saja mungkin waktunya tidak tepat, mungkin situasinya tidak tepat atau mungkin kita memang bukan orang yang tepat untuk satu sama lain. sungguh takdir dan garis kehidupan manusia adalah rahasia semesta dan Ilahi yang terlalu dalam untuk ditelusuri.

•••

tolong,

salamkan rinduku, sayangku, peluk dan kecupku untuk kamu dengan caraku yang kamu semoga tak lupa. pudar, bukanlah bagian dari aku dan kamu; yang ini keyakinanku tak akan sedikitpun roboh.

– a

silver lining

silver lining

if only you knew;

that for you I will

sail thru the ocean

climb the highest mountain

jump off of the cliff

have a gun pointed between my eyes

and a sharpened knife ready to slit my artery,

that I will in every situation benefiting you,

trade my life with yours

just to prove how deep I’d fell

for you, my love

but that’ll be too much

(oh believe me, I know)

when all you needed is just

for me to make time

for me to keep my promises

for me to let my words be the only thing

that you hold on to

for me to not ever let you be disappointed even sad

but love,

life is like that and I am not perfect

my time is limited and 24 hour a day

will never be enough

I broke my promises and I bet

I will do that again

my words will be too slippery for you to hold on to

and sadly, disappointment is my expertise

——

I don’t know how to not

take you, my love, for granted

because too bad, I’ve been treated like that

for as long as I remember

I’m too used to be taken for granted,

so I’ve done nothing but the same

to people I love so very dearly

but for you, oh dear since you

since you’re here, all I wanna do is to be better

to be a better version of me

because deep down

I know and I want that

I deserve to be seen at my best for you

that to let you have a memory

of me being in pieces is never my option

——

see, they said changes has to be made for your own good, for yourself

but a trigger, your kind of trigger, is a good thing for a broken thing like me

you made me want to discover myself and found myself again

you made me want to forgive myself and love myself all over again

you are my change

and I don’t mind

because one thing I know for sure

that you are the only one I have for eternity

and I know that you love me just as I am

and that you, no matter what, will not ever leave me

——

thank you, my love, my angel, my world, my blessing, my galaxy, my son.

you, in your own unique and unexpected way has successfully teach me something so precious. you restored my faith in love. you healed me from my brokenness. you, with your smile, laughter, stubbornness, temper and sincere love has teach me that above everything; love conquers all.

to you, my dearly silver lining. salute.

belenggu rindu

belenggu rindu

usahaku patah bahkan saat aku baru hendak bersiap. semudah ucap kata “semoga bahagia” yang tak berarti bila ia tak disana.

dan segala kepura-puraan akan ketidakpedulian pun meradang, menyadari kalau ia tak mampu lagi menahan asa karena rindu terlalu bergelorakan rasa.

lalu sebenarnya, siapa yang lebih tahan?

aku?

kamu?

atau rindu?

atau bahkan,

segala yang kita pikir mampu membelenggu rasa?

dengan segala sisa yang ada,

aku; yang pernah dan tak ingin berhenti jadi milikmu.

Signed, Sealed, Delivered to: The Almighty God in Heaven

Signed, Sealed, Delivered to: The Almighty God in Heaven

— prolog

pada akhirnya yang mengelabu, meredup; bukan cuma aku.

padahal dengan segala pengetahuanmu tentang lapisan demi lapisanku; aku akan melemah dan kamu sendiri tersiksa.

tapi pendirian itu sudah kokoh, lagi-lagi keputusan tanpa diskusi, tanpa tukar pikiran, hanya makian dan bersisa sesal; aku, kamu, sama.

•••

bagaimana bisa Dia membiarkanku merasa kalau pada akhirnya tak Dia relakan aku dan dirinya bersama? pantaskah aku yang hanya setitik debu di mata-Nya, yang eksistensinya di semesta bahkan untuk orang di sekelilingnya tak berpengaruh apa-apa, menuntut jawab dari pertanyaan yang menghantuinya? pantaskah seorang seperti aku meminta terus menerus keringanan dan mendapatkan yang kumau? meski di titik ini, kuragu bahwa memang dia yang ku mau. bagaimana bisa bila cerita rasa itu hanya akan menjadi sebuah pelajaran dan bukan berkat, Dia tancapkan ku jatuh terlalu jauh dan dalam? bukankah ini terasa seperti pengulangan rasa yang tak jauh berbeda; bahwa aku sudah melalui dan berhasil melewatinya dan berdiri disini tetaplah bukan alasan untuk mengulang perihnya lagi ‘kan?

•••

ah, Kamu.. aku tak ingin berargumen bahwa Kau sedang mempermainkanku. aku lelah melawan-Mu. mungkin caraku salah. mungkin harusnya aku ikuti alur-Mu dan memasrahkanku pada jalan cerita yang Kau buat. tapi tolong, rasa ini sungguh sudah kucoba tahan dan lawan, tapi aku tak sedang mengobati ini. aku hanya sibuk memasang barikade sembari menunggu titik batasnya dan habis sudah pertahananku dan aku kembali kemana aku bermula. tegakah Kau padaku? mungkin Kau pikir aku akan lebih kuat dari yang lalu, tapi yang diambilnya adalah sisa-sisa lalu yang aku punya. kalau tak kudapatkan lagi semua itu, habis sudah aku dibuat oleh-Mu, tahukah?

ahh.. sesungguhnya sering aku hanya ingin merasa yakin bahwa pilihanku sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang Kau rancang untukku. lebih seringnya lagi, aku berharap Kamu bisa benar-benar memerintah langsung layaknya seorang tua pada anaknya. Biar bagaimana, akan menyenangkan untuk dimanjakan dan diperhatikan oleh-Mu Yang Menciptakan aku. sekarang yang terjadi aku menerka, apakah ini betul atau itukah yang benar? bahkan kehadiran akan seseorang yang cukup baik saat ini membuatku ragu bukannya bersyukur. permainan macam apa lagi ini yang Kau mainkan padaku? sebuah tes kah dia yang Kau kirim? atau petunjuk menuju hal baik atau hadiah atas ketulusan niatku yang Kamu tahu betul kebenarannya? bisakah sekali saja kirimkan aku buku manual untuk melanjutkan sisa umurku? ah ya, itulah yang disebut Al-Quran. kalau boleh jujur, segala bahasa yang tersirat dan terlalu banyak penafsiran melelahkan pikiran duniawiku. dan Kau ciptakan manusia dengan segala akal pikiran khusus milik makhluk paling sempurna hingga mereka menjadi lupa diri, mengartikan semuanya sesuai yang mereka mau dan cocok dengan diri masing-masing. bagaimana bisa kebenaran artinya tersadurkan dengan baik kalau begini?

tapi dipikir-pikir, mungkin itu yang Kamu mau ya. untukku berpedoman. betapa aku menginginkan Kau berikan perintah langsung, sebegitu lupanya aku bahwa semua tertuang dari ribuan tahun lalu di kitab agamaku. maafkan aku yang sedang menerawang dan mencari keyakinan. untukku hanya perlu yakin. tak perlu masuk logika. bahkan ketika aku berkaca dan bertanya “Siapa kamu?” pada diriku sendiri, pikiranku menjadi logika lepas dengan segala kemungkinan yang ada. tapi tahu ‘kan Kamu kalau aku Kau cipta dengan berpusatkan pada rasa? jadi mari bicara tentang itu layaknya aku sedang meminta tolong karena memang itu yang aku lakukan saat ini.

kali ini, sungguh ku mohon. demi segala hal yang aku telah lalui, segala hal yang aku pernah miliki dan kini tak lagi ku punyai. demi segala hal yang mengharukanku dengan bahagia meski itu menjadi tangis, segala hal yang menjadi asal muasal sanubariku menjerit. demi segala hal yang aku perjuangkan, sayangi dan pedulikan… kali ini. bisakah Kau, untukku, kumohon untuk menjauhkan segala hal dan semua orang yang tak baik untukku, dan dekatkan aku pada yang Kau suratkan dulu itu saat Kau menghadirkanku ke semesta-Mu? setidaknya tunjukkanlah (petunjuk yang lebih tegas) untuk yang sudah Kau suratkan untukku; apa-apa yang memang pergi untuk tak (lagi) kembali, apa-apa yang masih ada dan seharusnya tiada, apa-apa yang tidak dimiliki tapi adalah suratan takdir. karena aku ini Kau ciptakan dengan ketidakpekaan dan buruk dalam menerka-nerka.

dan Kau pun menyadari pasti, 24 tahun sudah cukup untuk bermain-main. menua adalah pasti, tapi bermanfaat adalah sebuah pilihan. dan aku ingin bermanfaat, setidaknya untuk 1 orang yang pernah tumbuh dalam tubuhku yang tak seberapa ini. bahkan bila bahagianya adalah deritaku. dan situasiku yang sedikit malfungsi di pusat kehidupanku ini menghambat keputusan yang tak lain juga adalah ketulusanku yang paling sungguh-sungguh.

Tuhan, tak perlu ‘kan Aku meneriakkan langit demi suaraku terdengar. Aku berpikir bahwa semua adegan memarahi-Mu yang tak perlu di film-film itu memang terlalu berlebihan. Jadi ini dalam hatiku saja, hanya menjadi bisikanku pada-Mu yang semoga akan Kau pertimbangkan baik-baik. Ini cerita dua per tiga malamku kepada-Mu. Meski ini bukanlah saat terbaik dalam hidupku untuk meminta pada-Mu, aku tahu Kau mendengarkan ocehan yang kutuliskan dan kukirimkan ke singgasana-Mu yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui agar Kau bisa memajang ini di hadapan-Mu dan tak pernah lupa akan pintaku.

Selamat pagi, Tuhan. Hari baru dengan kesempatan hidup sekali lagi hari ini. Terima kasih. I love you.

Cliche.

Cliche.

I must say this..

I am so very sorry. That the way things ended are not exactly like we both imagined. But I can’t be with you and imagining (while hoping) that you were someone else. Although your intentions are something that I really want, I just can’t picture myself with someone else but him. And that’s totally unfair for you. To have feelings for me, to developed comfort with a girl that can’t stop thinking about someone else when she’s with you. I totally understand if you ended up hating me. That’s fine and understandable. This one, the blame is on me.

The last few days had been fun. You were great. And as cliche as it sounds, it’s not you, it’s me. I still have so many boxes to packed before I leave the house.

I hope you understand.